Juli dalam review

Bulan Juli lalu boleh dibilang benar-benar bulan di mana kami bertiga bolak-balik mendapatkan ujian berupa sakit ataupun bolak balik kontrol ke RS.

Pertama: saya yang harus mondar-mandir mengikuti alur BPJS dan periksa kehamilan plus kondisi jantung via Puskesmas kelurahan-kecamatan-hingga tingkat daerah. Mondar-mandirnya sih yo wess lah terima saja, namun ujian selanjutnya seperti yang sudah diceritakan sebelumnya: ternyata ditakdirkan bertemu dokter kandungan yang berbicara di luar kapasitas tentang jantung saya sehingga bikin saya stress luar biasa dalam kehamilan saat itu.

Syukurlah habis itu balasannya ketemu dokter jantung yang slow hahahihi dan mampu meyakinkan bahwa semua baik-baik saja.

Kedua: kami melakukan pemeriksaan pada A sekaligus vaksin ulangan yang belum terkejar.

Berat badan A pun masih terbilang kurang meski ia sudah makan dengan banyak dan lahap. Memang ada makanan yang masih ia tolak namun nafsu makannya masih terbilang baik. Ia pun aktif luar biasa.

Dokter memeriksa ada kelenjar getah bening yang cukup besar di leher dan berjumlah lebih dari satu buah. Ia mencurigai adanya infeksi ataupun TB paru. Sehingga kemudian A harus melakukan serangkaian pemeriksaan lab, urin, hingga tes mantoux di puskesmas. Lab dan urin hasilnya baik, yang bikin dag dig dug adalah tes mantoux. Bolak balik kami ke puskesmas. Syukurlah hasil akhirnya juga negatif.

Ketiga: qadarullah Abang kena herpes di kulit punggung pada minggu yang sama A harus tes mantoux. Dari hasil googling dan tentunya bertanya ke dokter katanya berbahaya untuk ibu hamil, maka langsung lah saya dan A mengungsi ke rumah ibu huhu sedih sekali saat itu. Namun seminggu kemudian saat bertemu dokter lain lagi berkata bahwa sebenarnya herpes tidak seberbahaya itu untuk ibu hamil karena ini jenis herpes biasa yang virusnya sama seperti cacar air, dan toh saat itu sudah kering. Bismillah akhirnya saya dan A pun pulang kembali ke rumah.

Keempat: menjelang akhir Juli kami sudah berencana untuk berenang. Toh selama kehamilan ini saya sama sekali belum pernah berenang. Berbeda jauh sekali dengan waktu hamil A.

Kami berniat mengajak ponakan juga untuk berenang bersama. Saya sudah membayangkan keseruan di kolam renang.

Qadarullah Sabtu di hari rencana renang tersebut, Mas dan A memang bersama-sama pergi namun bukan ke kolam renang melainkan bersama-sama mengantri di RS. Sudah sekian hari mereka panas naik turun. Mas malah sudah beberapa kali ke dokter hingga akhirnya ke RS dan terancam divonis typus.

Dua bocah itu pun bergantian jejeritan saat ambil darah di lab. Ampon deh.

20180728_130156_wm~2

Benar saja, Mas terkena typus sementara A statusnya adalah infeksi bakteri.

Namun 2 hari kemudian A kembali panas naik turun sehingga dilakukan pemeriksaan lab kembali dan ternyata doi typus juga, sodara-sodara! Onde mandeh.

Hal yang bikin pusiang adalah tiap badannya sudah enakan, dia petakilan dan leluncatan lagi. Sehingga habis itu ya drop lagi. Kami sampai menjadwalkan minum obat penurun panas tiap 4-6 jam sekali untuknya karena sejak bayi jika demam A kerap panas tinggi hingga 40 derajat. Alhamdulillah tidak ada riwayat kejang.

Menunggu A yang benar-benar pulih hingga akhirnya saya menunda pemeriksaan kehamilan hingga 2 minggu-an lamanya. Syukurlah setelah itu semua sehat kembali.

Semoga Allah gugurkan dosa-dosa pada kami dan semua yang sedang sakit. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *