Belajar mewarnai

Abang membelikan pensil warna dengan jumlah warna yang cukup rinci sejak satu tahun yang lalu. Tapi A menyentuhnya hanya karena penasaran di awal. Lalu sudah. Ia kadang mengambilnya hanya karena ingin membentuk bidang datar dari pensil-pensil tersebut. Tak ada keinginan untuk mewarnai meski ia kerap beberapa kali melihat anak-anak yang datang ke rumah untuk mewarnai gambar. Kami punya beberapa buku mewarnai yang bisa digunakan. Namun A tak mengambilnya dari rak. Saya toh juga tidak mau memaksanya.

Pernah ia terlihat memegang pensil seperti memegang bambu runcing lalu mencoret sesuatu di kertas. Tak juga saya intervensi cara pegangnya. Biar saja. Nantinya ia akan menemukan cara memegang sendiri dengan kenyamanannya di waktu yang tepat.

Lalu suatu hari di akhir bulan Juni, kami main ke perpustakaan mini dan tempat bermain milik teman di Kelapa Dua, Depok. Nama tempatnya Beruang Madu. A bermain di sana sejak siang hingga menjelang sore. Tapi ia tak tertarik sama sekali dengan melukis, mewarnai, dan aneka kegiatan lain yang bisa ia lakukan dengan duduk di depan meja. Ia hanya memainkan mobil-mobilan dan beberapa mainan miniatur lain. Saat pulang, salah satu pengurus tempat tersebut memberikan selembar kertas bergambarkan kuda untuk A warnai di rumah. A menerimanya dengan senang hati dan meminta saya menyimpannya dengan hati-hati agar tidak lecek.

Esok harinya, A mengambil sendiri kertas mewarnai yang sudah diberikan untuknya dan pensil warna yang selama ini tak ia gunakan. Ia bertanya pada saya tentang warna pink dan ungu lalu menuang pensil warna tersebut di mejanya. Dan mulailah ia untuk pertama kalinya mewarnai sebuah gambar. Untuk pertama kalinya pula ia memegang pensil sesuai dengan cara memegang yang biasanya kita gunakan. Semua atas kemauannya sendiri, dan saya hampir melonjak kegirangan karena penambahan aktivitasnya itu.

A mewarnai dengan khusyu. Dan seperti biasa: detail.

Saya tak pernah mengajarkannya untuk wajib mewarnai di dalam garis. Suka-suka lah. Warnanya juga terserah dia. Nggak harus rapi juga. Tapi dengan gaya perfeksionisnya itu, A mewarnai hingga menunduk-nunduk dan terlihat berusaha keras supaya hasilnya rapi. Karena ia ingin rapi jali itulah, ia kemudian merasa mulai bosan akibat terlalu lama mewarnai bagian kaki kuda. Jadi nggak selesai-selesai satu kertas haha. Saya lalu memberi tahunya untuk pelan-pelan saja. A pun menyudahi sesi mewarnai pertamanya.

Esok harinya ia mengambil buku yang ada lembar mewarnai, lalu mulai mewarnai sendiri. Tapi ia tak terus menerus mewarnai. Setiap sekitar sekian menit, ia berdiri untuk kemudian berlari-lari. Entah berlari ke arah kamar, memutari meja, atau sekadar lompat-lompat. Begitu seterusnya.

20180708_114434

Akhirnya saya kemudian mencari lembaran-lembaran mewarnai yang bisa di-print sendiri. Kami saat itu sedang menginap di rumah bapak dan lembaran-lembaran itu sungguh membuat A dan Mas-nya fokus. A benar-benar mewarnai dengan detail dan dicicil seperti biasa. Lembaran yang ini pun akhirnya selesai diwarnai dalam waktu 3 hari.

20180713_191708

20180713_195539

20180714_064134

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *