Cerita melahirkan anak ke-2 (bagian 1)

Jadi setelah bolak-balik sekitar 2x ke klinik dan belum ada pembukaan aktif, pada akhirnya saya melahirkan lebih cepat dua hari dari Hari Perkiraan Lahir di pertengahan November itu.

Syukurlah gymball yang saya pinjam dari seorang kawan banyak membantu sekali demi melancarkan pembukaan. Saya menggunakan gymball tersebut sejak usia kandungan masuk minggu ke-37. Maka praktis selama berminggu-minggu, rutinitas saya duduk di gymball, mendorongnya dari ruang tidur ke ruang depan dan sebaliknya, dan berulang-ulang memberitahu Mas dan A supaya tidak melempar-lempar bola super besar itu seolah bola bekel.

Mendekati HPL, perasaan aneh itu datang lagi. Antara ingin lekas melahirkan tapi sekaligus juga tak ingin mengakhiri 40 minggu yang penuh berkah itu.

Saya sungguh menikmati saat-saat perut dan pinggang saya dipeluk A. Baik saat ia akan tidur ataupun saat kami membaca bersama. Ia biasanya akan bertanya “Kapan dede bayi akan lahir?” Lalu dilanjutkan dengan bertanya “Sekarang bulan apa?”. Karena saya selalu menjawab “Insyaa Allah lahirnya bulan November”.

A kemudian juga akan melanjutkan kalimatnya sambil mencium perut saya, “Dede sehat-sehat ya. Semoga nanti melahirkannya lancar. Jalanan ke kliniknya lancar, nggak macet. Semoga-semoga HB Mamah naik, ketubannya pecah di 9 atau 10. Semoga Mamah dan Dede sehat dan selamat. Aamiin.” Lalu ia memeluk pinggang dan perut saya. 😭

Hal itulah yang bikin melting. Saya sama sekali nggak ada bayangan nantinya gimana reaksi A terhadap adik bayi. Dan saya mengkhawatirkan diri saya sendiri apakah bisa nantinya melipatgandakan cinta untuk mereka berdua? Tanpa omelan? Tanpa marah dan kesal? Saya juga seolah tak ingin mengakhiri momen berdua saja dengan A tapi sekaligus juga saya ingin sang adik lekas lahir.

Sungguh rumit pikiran ibu hamil ini.

Sejak Sabtu sore, kontraksi semakin sering. Tapi mengingat sebelumnya kami sudah datang ke klinik dan belum ada pembukaan apa-apa maka saya menunda keberangkatan. Minggu pagi kontraksi juga semakin sering namun saya masih jalan kaki membeli nasi uduk. Di jalan bertemu beberapa ibu tetangga dan mereka mendoakan kelancaran persalinan. Semakin sore kontraksi semakin sering dan berjeda 5 menit sekali hingga akhirnya sore hari kami putuskan ke klinik.

Tiba di klinik dilakukan pemeriksaan dalam dan CTG alias detak jantung bayi. A menemani sambil memberikan buku bacaan dan mainan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari untuk adiknya.

Ternyata menurut perawat sudah pembukaan 1 namun mulut rahim masih jauh. Karena pembukaan aktif dimulai sejak pembukaan 3 maka diputuskan saya pulang lagi ke rumah.

Pukul 8 malam kami tiba di rumah. Mulai jam 10 gelombang rahim kembali datang, kali ini disertai rasa sakit yang hebat. Bukan sekedar kencang seperti semula. Rasa sakit yang sempat saya lupa bagaimana rasanya itu.

Saya memaksa diri untuk makan namun hasilnya hanyalah mual. Akhirnya saya kembali duduk di gymball dan melakukan pelvic rocking kembali.

Tengah malam saya mencoba tidur. Lumayan sekitar 1 jam hingga akhirnya karena kontraksi kembali datang dengan lebih hebat saya duduk lagi di gymball. Pukul 2 dini hari saya mencoba tidur lagi hingga pukul 3 rasanya sudah tak sanggup untuk menahan godaan mengejan. Saya membangunkan Abang dan ia pun lekas bersiap-siap sambil menunggu A yang biasanya bangun pukul 4.

Benar saja saat pukul 4, A terbangun dan kami lantas memberitahunya bahwa sudah tiba saatnya saya akan melahirkan. Ia menurut untuk lekas berganti baju dan seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa ia akan menginap di rumah kakak saya dulu yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh.

Kami memesan taxi dan memutar arah menuju rumah kakak dulu. Kakak menanti di gang untuk menjemput A dan mendoakan semoga persalinan saya lancar. Kami pun lantas menuju klinik sambil saya sepanjang perjalanan menggigit bantal dan memegangi tangan Abang sambil mendaraskan doa.

Tiba di klinik pukul 5 pagi. Kaki saya sudah gemetar dan panas dingin tapi masih sanggup menaiki tangga menuju lantai 2. Saya memegang erat bantal di genggaman sambil mengucap bismillah.

Tiba di ruangan perawat mengecek dan berkata bahwa saya sudah pembukaan 6. Alhamdulillah. Saya mengingatkan diri untuk tidak terlampau senang dan terus membaca doa. Saat persalinan A dulu, saya juga tiba di RS sudah pembukaan 5 saat jam 12 malam. Tapi mungkin karena tegang menjelang persalinan sehingga hingga pukul 6 pagi tidak ada penambahan pembukaan hingga akhirnya pukul 9 saya harus induksi.

Perawat melakukan CTG dan mendapati bahwa setiap gelombang rahim datang dan saya tegang luar biasa hingga lupa mengatur nafas, saat itulah detak jantung bayi langsung menurun.

Saya menyadari satu hal bahwa saya harus mengeluarkan bayi ini secepatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *