Naik MRT Jakarta

MRT Jakarta akhirnya resmi diluncurkan dan sudah bisa dinikmati masyarakat. Selama awal pembukaannya MRT Jakarta mengadakan uji coba bagi penumpang secara gratis alias tak berbayar. Massa pun berbondong-bondong ingin mencoba naik MRT Jakarta yang katanya stasiunnyan megah dan keren itu. Hingga akhirnya muncul beberapa postingan tak enak mengenai penumpang yang menjadi viral. Hmm… Euforia senangnya semoga turut menjaga fasilitas bersama juga ya.

Kami sekeluarga sebenarnya ingin ikut naik MRT saat masa uji coba gratis itu. Pertama kali naik MRT justru saat kami dapat rezeki ke Taipei 3 tahun lalu yaitu akhir April dan awal Mei tahun 2016. MRT di sana tak pernah telat, stasiunnya bersih, tak boleh makan dan minum selama di stasiun dan di dalam MRT, hingga MRT yang tak ada masinisnya alias jalan sendiri! Maka jelas kami penasaran, apakah MRT Jakarta seperti itu juga?

Karena nggak keburu menaiki MRT saat masa gratisan, akhirnya kami naik saat baru 2 hari berbayar. Sengaja kami pilih hari kerja alias weekdays supaya tidak terlalu ramai. Kami pun mengajak kakak dan keponakan untuk ikut tamasya naik MRT. Bocah girang bukan kepalang! Sejak berhari-hari sebelumnya dia selalu membahas mau naik MRT ke siapa saja yang ditemuinya.

Kami pun naik dari stasiun Cipete Raya. Selama bulan April ini harga tiketnya diskon 50%. Dari Cipete ke stasiun terakhir di bundaran HI memakan biaya Rp 5.500 sesudah diskon. Di awal akan ada deposit Rp 15.000 untuk kartu. Saat itu Abang mencoba menggunakan tap cash dengan kartu elektronik namun sayangnya masih bermasalah sehingga tidak bisa dan kami membeli 1 tiket lagi.

Jangan lupa ya antrinya sesuai di garis kuning. Jangan berdiri di depan pintu dan langsung masuk saat kereta berhenti. Dahulukan penumpang yang turun.

Stasiun Cipete terbilang sepi dan jarang penumpang sehingga anak-anak makin girang berlari ke sana ke mari. Mereka juga penasaran dengan pintu otomatis yang ada di peron. Namun pastikan menjauh dari pintu ya. Pada pintu juga terdapat tulisan dilarang bersandar.

Pada tulisan di peron sebenarnya tertera kereta akan datang pukul 10.26 namun saat jam tersebut kereta belum juga tiba. Sepertinya masih telat sekian menit.

Ketika pada akhirnya datang, kami pun naik dan lantas mengambil tempat duduk. Bangku yang ada di dalam MRT rupanya tidak seperti yang ada di dalam commuter line  yang seperti sofa namun bertipe bangku plastik. 

Anak-anak sangat excited berada di dalam MRT. Mereka ingin duduk berbalik arah menghadap jendela. Dan meski sepatu mereka sudah dilepas, namun tetap saja kami harus memberi tahu berulang kali supaya mereka duduk saja dengan rapi dan tidak berdiri-berdiri di bangku. Kayanya kami ngomong “Duduk, donk, Nak.” sampai 100x heu.

Di beberapa titik anak-anak (dan juga saya sih ya) terkesima waktu kereta MRT masuk ke dalam terowongan. Pemandangan yang tadinya berupa langit cerah dan gedung-gedung berubah menjadi gelap dan kami hanya bisa melihat bayangan kami sendiri di kaca jendela.

Kereta MRT ini selalu ada setiap 10 menit. Jadi dalam perjalanan kami bisa bertemu dengan kereta lain lagi. Ketika itu kami bertanya-tanya apakah bisa nantinya kami balik lagi dari stasiun Bundaran HI ke Lebak Bulus? Salah satu penumpang menyahut bisa asalkan kami tidak tap keluar. Oo baiklah. Maka rencana kami selanjutnya adalah turun di Bundaran HI lalu naik kereta lagi.

Setelah sekian menit akhirnya kami tiba di stasiun Bundaran HI. Pas di peron sih kaya sepi. Begitu kami keluar sedikit woaaaa rame pisan! Sampai ngantri banget! Kami memutuskan bertanya dulu sama petugas yang lumayan banyak berada di situ dan sedang mengobrol maupun meladeni pertanyaan penumpang.

Ternyata menurut petugas, tidak bisa langsung naik kalau mau ks Lebak Bulus. Melaunkan tetap harus tap keluar dan beli tiket lagi. Waaah baiklah.

Akhirnya kami mengantri tiket lagi di loket. Rupanya meski hari kerja tetap banyak masyarakat yang ingin naik MRT. Bahkan banyak di antaranya adalah lansia dan keluarga seperti kami.

Oh iya meski di loket tertera bisa menerima pembayaran dengan uang elektronik, namun kenyataannya saat itu belum semuanya bisa. Di stasiun Cipete tadi Abang bermaksud membayar dengan kartu yang sudah berisi saldo. Sayangnya mesin tidak mau menerima. Sehingga harus tetap membeli tiket.

Harga tiket dari stasiun Bundaran HI ke pemberhentian terakhir di Lebak Bulus adalah Rp 14.000, diskon 50% menjadi Rp 7.000 per orang.

Kami pun naik kereta lagi. Iihiiiy!

Anak-anak tetap bersemangat. Terutama ketika kereta keluar dari terowongan dan melihat Masjid Agung Al Azhar.

Menjelang tiba di stasiun Lebak Bulus, kereta berbelok sehingga terlihat ujung kepala kereta. Kami pun akhirnya tiba di pemberhentian terakhir. Lebak Bulus.

Rupanya banyak juga yang memang berpikiran seperti kami yaitu naik hingha stasiun terakhir. Meski tidak seramai stasiun Bundaran HI namun stasiun Lebak Bulus tetap ramai.

Karena Lebak Bulus menjadi dipo kereta maka yang menarik di sini kita juga bisa melihat banyak kereta-kereta MRT parkir.

Dari situ kami shalat dzuhur dulu. Di sebelah mushola juga ada ruang menyusui yang ternyata nyaman. Juga terdapat tempat untuk mengganti popok bayi.

Habis itu kami berniat makan di sekitaran Lebak Bulus. Saat berjalan di trotoar tiba-tiba turun hujan deras! Kami pun sempat kehujanan dan berlari-lari sambil menggendong bayi untuk kemudian berteduh di pos polisi.

Perjalanan kami naik MRT pun berakhir. Video perjalanan kami bisa dilihat di sini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *