Cerita saat mudik

Memantau dari lini masa di sosial media, banyak teman-teman yang rupanya sudah mulai mudik ke kampung menjelang hari raya idulfitri. Jogja, Bandung, Pekanbaru, Pontianak, dan lain sebagainya.

Saya jadi ingat momen-momen saat saya dan keluarga besar masih rutin mudik ke Jawa Tengah setiap menjelang lebaran. Mulai tahun 1999 hingga tahun 2009, kami melakukan rutinitas tersebut untuk berlebaran di kampung bersama nenek dari pihak ayah. Selama kurun waktu 10 tahun itu, kami menempuh kemacetan yang tak terkira dalam waktu yang sangat lama.

Di perjalanan kami bertemu dengan beraneka rupa pemudik dan bawaannya. Lalu setiap sekian waktu, kami berhenti untuk beristirahat meluruskan punggung.

Tempat pemberhentian kami bisa berupa masjid, rest area, hingga tepi jalan. Pernah kami berhenti lamaaa sekali di tepi jalan karena bapak supir yang masih terbilang sanak saudara kami itu mengantuk luar biasa. Pernah juga kami bertemu pemudik motor yang beristirahat di masjid, membawa serta keluarganya, ada juga yang menambah papan kayu di bagian belakang motor supaya menambah space untuk meletakan barang bawaan.

Sebelum Cipularang dibuat, kami menempuh jalur Puncak yang berkelok-kelok itu. Pernah suatu hari kami dibuat khawatir karena di tengah kemacetan jalan yang memutar dan naik turun, bensin mobil menipis sementara tak terlihat ada pom bensin.

Pernah juga bemper mobil kami ditabrak pengendara motor dari belakang yang lantas kabur menyelinap di antara kemacetan. Peristiwa lain yaitu menjelang kami melintasi hutan jati, ada mobil lain yang membuka kaca jendelanya dan berseru pada kami lalu menyalip. Kami sudah deg degan dibuatnya. Khawatir rampok dan semacamnya. Ternyata rombongan mobil itu menyerahkan ban mobil cadangan kami yang jatuh tanpa diketahui dari kolong mobil beberapa meter sebelumnya. Mereka mengambilnya dan mengejar kami. Ah, terima kasih orang baik.

Pulang

Pada saat mudik itu, biasanya saya duduk di kursi paling belakang, bersama tumpukan koper, tas, dan kardus-kardus. Dengan posisi duduk yang sama dan waktu tempuh yang lama ditambah skoliosis yang ada di tulang punggung, duh jangan ditanya rasanya!

Apalagi menatap macet tak berkesudahan semenjak di Nagrek dan seterusnya. Nelangsa!

Maceeet!!

Pernah kami menempuh perjalanan selama 22 jam dari jarak tempuh normal 8 jam. Ketika sampai di kampung saat tengah malam itu rasanya lunglai mengingat hanya istirahat sehari lalu besoknya balik lagi ke Jakarta.

Pada saat itu bulek yang menawarkan mie rebus di tengah malam pada kami yang baru tiba dan kelaparan sungguh nikmat tak terkira.

Kemacetan itu mungkin tak sebanding dengan kerinduan nenek pada anak dan cucunya. Tawanya yang khas memenuhi rumah yang besar itu ketika bermain dengan kami.

Meski saya termasuk golongan orang yang lebih setuju bahwa lebih baik mudik dilakukan saat liburan saja dan bukannya lebaran, namun ayah hanya bisa libur saat lebaran maka yaaa mau gimana lagi. Beberapa hari mudik dirasa cukup untuk melepas kerinduan nenek pada anak dan cucunya.

Namun pernah juga kami berada cukup lama di kampung. Puas menatap bintang-bintang yang bisa dilihat lebih banyak saat langit malam daripada di Jakarta, jajan makanan di pasar, main air di sungai kampung ibu, hingga nyeberang ke pasir putih di Pulau Nusakambangan.

Rutinitas mudik tiap tahun kemudian terhenti sesudah tahun 2009. Nenek sakit justru saat mengunjungi Jakarta dan kemudian terbaring koma selama kurang lebih 2 tahun hingga akhirnya pergi menghadap Allah SWT.

Kami tak lagi mudik ke kampung di Jawa Tengah. Rumah nenek dari pihak ibu bisa ditempuh dengan naik ojek kurang lebih 10 menit. Sementara pasca menikah, rumah umi mertua berada di Tangerang. Praktis mudik kami hanya seputaran tempat tersebut.

Saya jelas rindu dengan kampung. Kerinduan kampung ayah itu sempat terobati saat sepupu menikah dan kami sekeluarga menuju Cilacap. Lalu kerinduan dengan kampung ibu terobati saat saya dan suami berkunjung ke Gombong berdua saja.

Saya rindu dengan kampung dan suasananya tapi tentu tidak dengan macetnya. Dan sekarang kereta sudah sangat jauh lebih menyenangkan, sehingga tak perlu lagi mengkhawatirkan macet tak berkesudahan.

Rumah Mbah yang dikontrakan
Mudik naik kereta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *