Tentang hubungan toxic

Akhir-akhir ini sering muncul istilah “toxic” di lini masa. “Toxic people”, “toxic relationship”, dan sebagainya.

Apa sih toxic itu?

Sepengetahuan awam saya, toxic itu berarti racun. Tapi ternyata toxic people, toxic relationship, endebra endebre itu tak semudah pengartiannya saja. Dampaknya jauh dari itu, complicated, berlipat ganda, apalagi jika terjadi bertahun-tahun.

Hmm…. Mau nulis semuanya tapi bisa nggak ya. Dicoba dulu aja ya.

Bagaimana harus bersikap? Bagaimana jika kita sendiri lah yang toxic?

Bismillah. Semoga tulisan ini ada manfaatnya dan kita semua terhindar dari toxic dari orang lain maupun kita yang menjadi toxic.

Bagi saya pribadi, saya tidak menyadari ada sesuatu yang salah bertahun-tahun lamanya. Saya berpikir bahwa adalah kesalahan saya sendiri jika saya berpikir bahwa saya ini tidak bisa apa-apa, tidak berguna, dan hal-hal negatif lain.

Lalu secara tiba-tiba, memiliki anak menyadarkan saya. Menghentakan kenyataan bahwa selama ini apakah mungkin saya berada dalam lingkaran toxic sehingga selalu berpikir negatif dan seolah tak memiliki kebanggaan terhadap diri sendiri?

Why i used to hate my self?

Pernah terseret dalam arus pusaran bullying berarti berputar-putar di dalamnya. Efeknya jangka panjang hingga bahkan bertahun-tahun lamanya. Orang bisa bilang, “Ah lebay. Cuma diledekin doang.” Atau “Ah itu mah udah lewat. Namanya juga anak-anak. Becanda doang ngatainnya.”

Nope. Dampak bullying tak bisa hanya sekedar disebut drama. Efeknya bertahun-tahun. Apalagi jika si terdampak juga berada dalam lingkungan yang kerap menganggap mengejek orang lain adalah hal biasa dan juga berkata negatif adalah sebuah keseharian.

Saya terbiasa mendengar kata-kata negatif. “Nggak usah begini, kamu tidak akan bisa.” “Jangan begitu, kamu nggak bisa.”

Atau bahkan diejek di depan banyak sekali orang dalam waktu berkali-kali. Ketika saya bercerita perihal ejekan tersebut, cerita bullying itu malah diceritakan kembali ke orang lain dan saya kembali ditertawakan.

Apa sih yang menjadi bahan ledekan? Saat itu adalah perihal bentuk tubuh saya. Di usia sekitar baru masuk belasan, bentuk tubuh saya termasuk sangat kecil dan kurus. Banyak sekali yang memanggil dengan sebutan ceking, tengkorak, kuntet, hingga berkata “Gw serem deh liat tangan lo, kaya mau patah gitu.”

Pada saat itu, tak ada pelukan yang menyemangati. Setiap sudut tempat bahkan rasanya menakutkan dan menyakitkan. Setiap hari saya hanya menangis dan marah. Saya kemudian tak punya rasa percaya diri. Apapun yang saya kenakan rasanya salah dan tak pantas. Ditambah lagi serbuan kata-kata “tidak bisa” dan pendapat yang juga tidak didengar.

Suatu hari saat masih usia remaja, saya membatalkan rencana main ke rumah teman. Padahal si teman tersebut sudah berniat mengajak teman-teman satu kelas ke rumahnya. Saya juga menyanggupi. Pada saat itu saya sudah berada dalam lingkungan sekolah yang tidak melulu melakukan bullying seperti tingkatan sebelumnya. Teman-teman pun bersikap cukup baik pada saya. Namun saat hari H, secara tiba-tiba saya membatalkan rencana berkunjung ke rumah teman tersebut. Di hadapan baju-baju yang berserakan dan nyaris say coba satu per satu, saya kembali merasa diri saya jelek sekali memakai baju jenis apapun. Saya yang saat bullying dulu sampai selalu merasa gemetar dan berkeringat dingin hanya karena berada di lingkungan baru dan ramai orang, kini masih juga merasa kikuk berada di antara orang-orang yang padahal sudah dikenal cukup lama. Karena merasa rendah diri, akhirnya saya membatalkan rencana hari itu.

Bertahun-tahun sesudahnya saya kembali masih suka tidak percaya diri. Kata-kata yang dilontarkan nyaris setiap hari pasca melahirkan, kembali menyeret saya pada minimnya percaya diri dan kembali membuat saya merasa fisik ini buruk sekali.

Tanpa sadar saya berada dalam lingkaran toxic tersebut tapi tak bisa menjauh atau menghindar. Dan semua baru disadari ketika belajar setahap demi setahap mengenai pendidikan anak.

Saya sempat membuat desain blazer yang terinspirasi dari model pakaian Rani Hatta. Simpel dan sederhana. Saya menjelaskan dan Teteh penjahit yang menggambarkan lalu membuat blazernya. Setelah sudah jadi, cibiran selalu datang setiap saya mengenakan blazer tersebut.

“Jelek banget. Nggak ada yang lain?”

“Kok pakai ini sih?! Nggak ada yang bagusan lagi?”

Why oh why? Apakah karena saya yang membuat idenya lalu lantas dibilang jelek?

Pernah juga saya memutuskan bepergian dengan mengenakan kaos komunitas. Iya, komunitas yang saya rintis sendiri. Perginya pun hanya jalan biasa ke taman dan bukannya kondangan. Tapi yang dikatakan adalah bahwa kaos yang saya kenakan tersebut tidak layak, padahal warnanya bahkan masih cling. Apakah karena kaos tersebut saya buat sendiri lantas dibilang tidak layak?

Kalo kata Heysigmund.com:

Everything they do is to keep people small and manageable.”

Pernahkah mengalami apapun yang kita lakukan dianggap salah? Pernahkah mengalami setiap gerak gerik kita disetir? Bahkan hingga termasuk penggorengan jenis apa yang harus kita punya dan tidak menganggap kita punya penggorengan favorit lain untuk digunakan.

Yup, sayangnya semacam itulah hubungan toxic. Membuat kita selalu merasa “kecil”, tidak dianggap dan tidak berdaya, serta selalu ingin mengatur setiap gerakan kita.

Bukannya dalam kehidupan memang selalu ada norma dan peraturan? Yup, tentu saja. Kita bebas tapi haruslah tetap bertanggung jawab. Tapi apakah bahkan untuk masalah penggorengan pun kita harus diatur harus punya merk X? Sehingga jika kita lebih suka penggorengan merk Z dan kebetulan harganya lebih murah lantas kita dianggap tidak layak.

Seribet itukah? Yup. It could be like that!

Hubungan toxic amatlah meruntuhkan kepercayaan diri. Karena betapapun kuatnya kita menyusun benteng kepercayaan diri, akan rubuh lagi dan lagi karena kata-kata negatif yang tidak hanya diucapkan satu-dua kali. Bayangkan! Ucapan “Kamu tidak bisa.” yang diucapkan bertahun-tahun, berulang-ulang lalu meresap ke dalam otak!

Bahkan kata-kata negatif satu-dua kali saja bisa menjadi pengalaman melumpuhkan yang mematikan kreatifitas seorang anak. Bagaimana jika berulang dan terus menerus? Sejak kecil hingga orang tersebut punya anak juga.

Heysigmund.com menulis lagi:

But they do it because they love me. They said so.

Sometimes toxic people will hide behind the defence that they are doing what they do because they love you, or that what they do is ‘no big deal’ and that you’re the one causing the trouble because you’re just too sensitive, too serious, too – weak, stupid, useless, needy, insecure, jealous – too ‘whatever’ to get it. You will have heard the word plenty of times before. 

The only truth you need to know is this: If it hurts, it’s hurtful. Fullstop.

Love never holds people back from growing. It doesn’t diminish, and it doesn’t contaminate. If someone loves you, it feels like love.It feels supportive and nurturing and life-giving. If it doesn’t do this, it’s not love.It’s self-serving crap designed to keep you tethered and bound to someone else’s idea of how you should be.

There is no such thing as a perfect relationship, but a healthy one is a tolerant, loving, accepting, responsive one.

Sampai sini sudah mengerti kenapa begitu menyedihkan dan menyakitkan?

Hhh… Tarik nafas dulu ya.

Sumber rujukan:

https://www.heysigmund.com/toxic-people-when-someone-you-love-toxic/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *