Jangan katakan 3 hal ini pada orang yang mengalami depresi maupun gejala depresi

Depresi merupakan gangguan suasana hati berupa rasa sedih yang mendalam dan berkepanjangan hingga seperti berlarut-larut. Biasanya juga disertai rasa putus asa, selalu merasa bersalah, dan merasa tidak berharga.

Depresi bisa menimpa siapa saja. Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, pejabat, hingga ibu rumah tangga. Depresi meliputi kesehatan mental dan juga fisik. Bisa saja seseorang yang depresi mengalami gangguan pola tidur dan nafsu makan namun terlihat baik-baik saja saat berada di tengah masyarakat. Ada juga orang yang depresi yang awalnya bersemangat melakukan kegiatan tiba-tiba menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Saat ini informasi mengenai pentingnya kesehatan mental masih dirasa minim meski sudah mulai bermunculan gaungnya. Namun tetap saja, masih ada masyarakat yang menghubungkan orang yang depresi dengan stigma negatif.

Depression doesn’t just steal happy feelings. Sometimes it can steal all feelings, which can make people seem flat or indifferent.

https://www.heysigmund.com/depression-teens-warning-signs-help/

Jika memang tidak bisa membantu akan lebih baik jika diam saja. Jangan malah menambah beban emosional orang yang sedang depresi dengan kata-kata yang tidak membantu dan malah mendorongnya semakin terpuruk.

Berikut adalah kata-kata yang jangan diucapkan pada orang yang sedang depresi atau mungkin mengalami gejala depresi:

  1. Kamu kurang beriman

Banyak yang masih mengaitkan kesehatan mental dengan kurangnya ibadah. Padahal sama seperti penyakit lainnya yang juga datang dengan gejala tertentu dan tidak berkaitan dengan ibadah atau tidak. Bahkan ada juga orang yang mengalami depresi padahal ia sangat rajin beribadah. Depresi atau tidak IMHO ya memang tetap harus beribadah dan mengingat Allah. That’s what i believe. Tapi sebaiknya jangan kaitkan ia depresi karena tidak beriman. Depresi itu terjadi karena ada sesuatu yang terjadi pada tubuh (termasuk juga otak) dan komplikasi dari banyak sekali peristiwa yang sudah terjadi.

2. Kamu tidak bersyukur

Nah, ini nih juga yang paling banyak diucapkan. Why oh why?

Ini yang secara tersirat hampir diucapkan orang lain dua hari pasca saya melahirkan anak pertama.

“Itu si Ade kaya nggak senang gitu sih?”

Begitu kalimat yang tidak sengaja saya dengar dari dalam kamar. I want to yelled: “WHAAAAT?!”

Bukan saya tidak bersyukur sudah melewati titik kritis hidup dan mati saat proses persalinan, bukan pula tidak bersyukur kami bisa pulang dengan selamat membawa bayi ke rumah.

Namun sayang sekali, orang yang mempertanyakan hal di atas adalah orang yang sama yang juga turut menolak nama untuk bayi yang bahkan sudah kami pilih sejak masih di dalam kandungan. Juga yang mengeluh “kelamaan” saat saya masih berpikir untuk menunda waktu induksi karena saya merasa semua masih baik-baik saja.

Sementara saya juga berhadapan dengan situasi: “nama panggilan untuk saya dan Abang sebagai orangtua juga ditolak karena dianggap aneh”. Nama panjang bayi kami juga terus menerus dianggap tidak baik. Kami tentunya kekeuh tak mau merubah tapi yang muncul malah hal-hal yang tidak baik.

Sementara saya sendiri masih harus berhadapan dengan komentar dari orang (yang lain lagi) yang mengulangi kata-katanya setiap hari, “Ibu yang sudah melahirkan itu dalam tubuhnya rusak.”, ditambah juga larangan terus menerus dari orang (yang beda lagi) untuk memeras ASI ke dalam botol sebagai bagian dari persiapan ASIP saat bekerja nantinya.

Sekarang saya tanya, “BAGIAN MANA YANG GW NGGAK BERSYUKURNYA?”

*Maaf sewot. Semoga itu cukup menggambarkan bahwa depresi nggak ada kaitannya sama nggak bersyukur.

Sekedar catatan saya masih tidak pasti apakah saat itu 100% mengalami post partum depression atau tidak. Tapi waktunya cukup panjang jika hanya baby blues yang paling lama sekitar 1 bulan. Sementara saya baru ke psikolog 2 tahun pasca memiliki anak sehingga bahasan kami ya tidak menentukan apakah pasca lahiran itu saya mengalami post partum depression atau bukan karena toh sudah lewat. Sehingga saya hanya bisa menyimpulkan kondisi tersebut sebagai “hampir”. Karena yang mampu mengidentifikasi depresi atau tidak adalah psikolog, bukan diri saya sendiri.

3. Semua gara-gara kamu

Oh, please. Nggak usah dibilangin. Orang yang depresi sudah cukup menyalahkan dirinya sendiri terus menerus. Berulang kali. Everything seems wrong, even just for wearing some clothes.

Depresi sungguh tidak ada kaitannya dengan semua hal di atas. Bahkan dalam sebuah penelitian dijabarkan bahwa depresi yang terjadi pada perempuan bisa juga berkaitan dengan kurangnya vitamin D.

Semoga tulisan ini bisa turut mengurangi stigma negatif pada orang yang pernah atau sedang depresi dan semakin banyak dukungan terhadapnya.

Jika kamu merasa seolah seperti putus asa dan depresi, tolong segeralah bercerita pada profesional. Jangan malu dan ragu karena stigma dari orang lain.

And please remember that you are loved ❤

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *