Miung. Kucing setelah Pusi

Setelah kepergian pusi 8 tahun lalu, kucing-kucing yang sempat mampir ke rumah ayah datang silih berganti.

Sesudah Pusi, yang cukup menurut juga pada ayah adalah kucing warna hitam putih yang saya beri nama Miung.

Miung adalah anak kucing yang lahir di belakang rumah kami. Ibunya mati karena tertabrak mobil di belokan rumah. Entah mobil siapa.

Miung lebih nurut pada ayah saya. Bahkan lebih daripada Pusi. Ia selalu mengikuti ayah di dalam rumah ke manapun ayah saya pergi. Kalau ayah ke kamar mandi maka Miung akan menunggu di depan pintu. Kalau ayah pulang kerja maka Miung akan menyambutnya girang di teras.

Bersama Miung, ada kucing lain yang sebatang kara. Saya kasih nama Kucil. Alias kucing kecil. Entah kenapa Miung tumbuh pesat dan bertubuh besar tapi tidak dengan Kucil.

Kedua kucing itu tidak pernah bertengkar dan selalu berbagi makanan. Miung selalu mengalah pada Kucil tapi tidak dengan kucing lain.

Suatu hari, kakak mendapati Miung tidur di teras. Kakak pun shalat subuh ke masjid. Namun saat pulang, kakak masih menemukan Miung dalam posisi yang sama. Tentu saja mencurigakan.

Saat didekati di depan Miung ada muntahan. Miung tak bergerak dan ternyata sudah mati huhuhu.

Kami menduga ia keracunan setelah makan sesuatu. Sedihnya sesudah itu juga Kucil tak terlihat lagi, menghilang entah ke mana.

Berbeda dengan Pusi yang sampai 11 tahun bersama keluarga kami, pertemuan dengan Miung singkat saja. Hanya 6 bulan.

Terima kasih Miung dan Kucil.

Miung masih kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *