Pengalaman dengan bullying dan anxiety

Ok. What else?

I feel like everything seems so out of control. I mean, so many things happen. But that’s life. Isn’t it?

Selama ini saya sering bertanya (meski hanya selintas di pikiran), kenapa ya saya sering sekali merasa nervous, deg-degan, panik, dan overthinking? Saya hanya merasa bahwa itu semua berhubungan dengan bullying yang sering sekali terjadi kepada saya di masa sekolah dulu.

Apakah anxiety wajar? Sebagai manusia, tentu saja wajar. Amygdala pada otak secara cepat akan merespon “fight or flight” saat sesuatu terjadi. Misalnya dikejar babi hutan. (Wait, kenapa babi hutan?!) Yowess, dikejar ketjoak terbang. Lebih serem mana hayo 😛.

Otak akan merespon dengan cepat: “Serang atau kabur ya?”. Jadi, ya anxiety berguna gitu lho. Yang tidak wajar adalah nggak ada apa-apa tapi kok otak mikir fight or flight? Dan hal itu berlangsung dalam waktu lama.

Saya pernah dipermalukan di hari pertama masuk sekolah tingkat pertama. Saya tak mau cerita detailnya, yang jelas itu adalah hari dimulainya sekolah ditambah hari dimulainya penderitaan ejekan bagi saya. Buat saya ya semua soal fisik. Ejekan yang berbalut: “cuma bercanda”.

Tapi “cuma bercanda” itu berarti memanggil saya dengan sebutan-sebutan aneh yang berkaitan dengan bentuk tubuh saya yang pendek dan kurus sekali.

Bahkan sebenarnya, bullying yang saya terima sudah pernah terjadi sebelum masuk SMP, yaitu saat SD. Di mana saat itu seorang kawan memang gemar menghasut teman yang lain untuk berteriak ramai-ramai sambil memberikan julukan kata-kata kepada saya dari jarak yang jauh. Itu terjadi beberapa kali. Nah, saat SMP ledekan fisik untuk saya tidak dalam bentuk teriakan tapi bentuk kata-kata lontaran dalam setiap percakapan, bahkan dalam pelajaran, saat upacara, dan perjalanan berangkat dan pulang sekolah.

SETIAP HARI.

Dalam artian hampir setiap menit dan setiap hari saya selalu menerima ledekan bertubi-tubi dari banyak orang, baik yang saya kenal maupun tidak kenal, baik oleh siswa seangkatan, kakak kelas, guru, staf administrasi, hingga penjual di kantin. Baik saat sekedar mengobrol maupun saat di depan satu sekolahan nan ramai.

Setiap harinya saya menangis setiap akan berangkat sekolah. Seolah saya mau pergi ke kandang macan. Setiap hari jantung saya selalu berdebar kencang mengkhawatirkan saya diledek seperti apa lagi. Setiap harinya, rasa percaya diri saya semakin turun.

Pada saat itu saya berharap mendapat dukungan. Saya berharap ada yang bilang bahwa saya berharga. Karena saat itu saya sungguh memandang buruk sekali pada fisik saya sendiri. Saat itu saya sungguh menghargai beberapa guru yang tidak pernah sekalipun mempermalukan saya di kelas. Saya sering mendapat nilai tertinggi dan saya menghargai guru yang bahkan tidak meledek saya sejak awal masuk saat belum mengetahui saya mendapat nilai terbaik.

“Anak ini nggak normal.” Begitu kata staf sekolah sambil menunjuk saya di depan beberapa pegawai lain dan kawan saya. Sahabat saya menunjukan wajah tak suka tapi tak bisa berbuat banyak. Saat itu badan saya panas dan saya mau minta izin pulang tapi yang saya dapat malah kalimat seperti itu. Saya tambah menangis di ruang guru.

Sering sekali saya berharap ada yang mendorong saya ke psikolog untuk menceritakan semua yang saya rasakan. Padahal saat itu psikolog sangat jarang dan saya bahkan tak tahu seperti apa. Di rumah saya beberapa kali bercerita mengenai apa yang terjadi di sekolah. Sayangnya cerita tentang bullying itu diceritakan lagi ke sanak famili lain di depan banyak orang sehingga saya kembali ditertawakan.

Semenjak peristiwa demi peristiwa itulah saya selalu sangat nervous berada di depan orang banyak. Padahal di masa kecil saya banyak sekali berpengalaman menari dan bermain angklung dalam grup di panggung di hadapan banyak sekali orang. Tapi semua rupanya tak ada hubungannya antara percaya diri dengan banyak berdiri di panggung.

Saat bullying itu rasa percaya diri saya terjun bebas. Saya tak bisa berbicara di depan orang banyak, mudah kikuk, dan selalu berdebar setiap menghadapi lingkungan baru. Tangan saya selalu dingin dan berkeringat padahal guru hanya akan memanggil nama untuk mengabsen. Jantung saya berdebar luar biasa kencang padahal saya hanya mau mengumpulkan buku ke meja guru. Saya bahkan pernah menahan lapar seharian karena malu ke kantin akibat saya merasa rok yang saya kenakan terlalu besar. Saya takut jajan di kantin dan kembali menjadi bahan tertawaan.

Beberapa kali saya juga menarik diri dari lingkungan teman dan cenderung memilih pulang sendiri saja. Saya tak tahu apa yang terjadi saat itu. Yang jelas saya merasa hampa dan tak berharga. Saya tidak merasa pendapat saya penting. Saya juga hampir tidak pernah menyuarakan pendapat karena toh tidak didengar.

Oh iya, saking takutnya saya dipermalukan lagi dan lagi di kelas, saya bahkan berusaha mempelajari sendiri pelajaran matematika yang susah sekali dan bahkan belum diajarkan. Liburan kenaikan sekolah bukannya bersenang-senang saya malah belajar matematika untuk kelas 2 padahal saat itu kelas pun belum dimulai! Susah payah saya belajar sendiri dengan harapan guru matematika nantinya tidak mempermalukan saya di depan kelas karena nilai matematika saya yang baik. Syukurlah benar seperti apa yang saya harapkan. Bahkan ketika suatu hari nilai matematika saya tak terlalu baik, guru tersebut juga tetap tidak menyinggung fisik saya.

Sewaktu salah satu selebriti membuat video yang memuat tentang dirinya berbicara tentang bullying yang terjadi saat SD, beberapa teman saya membahas dan berkomentar bahwa itu aneh sekali. Waktu itu saya sudah kuliah. “Bullying jaman SD yang sudah lama sekali dan tidak penting untuk dibahas lagi. Namanya juga anak-anak, dst dst.” kata teman-teman saya.

Tapi saat itu saya tidak setuju. Karena saya merasakan hal yang sama. Yaitu tidak mudah melupakan bullying yang terjadi meski sudah bertahun-tahun lamanya. Dan tidak bisa dibilang “hanya kenakalan anak-anak biasa.” Nope. Bullying is bullying. It happens and it leaves wound. Saya mungkin saja memaafkan orang-orang yang membully saya dulu, tapi saya tak bisa lupa perasaan saat itu. Inilah yang tidak mudah diterima oleh orang yang tidak mengalami.

Sejak masa bullying itu juga jika mengobrol dengan orang lain saya merasa pikiran saya melayang, bukannya mendengarkan lawan bicara, otak saya malah sibuk dengan “Gw komentar apa ya? Gw takut dibilang aneh karena nggak ngerti atau nggak ngasi komentar apa-apa. Gw komentar ini atau itu ya?” dst dst.

Beberapa tahun sejak kejadian itu saya masih merasa tidak percaya diri. Apapun yang saya kenakan rasanya buruk. Ditambah lagi orang di rumah juga berkata “Saya malu sama tetangga dan orang-orang karena kamu kurus sekali”. Saat itu saya berpikir tak ada gunanya nilai-nilai tinggi yang saya dapat dalam pelajaran di sekolah. Bahkan orang terdekat pun malu karena tubuh saya yang kurus.

Sejak itulah saya selalu ragu saat bepergian. Saya memiliki seorang sahabat yang bersamanya saya ingin lupa semua bullying yang terjadi. Saya tak bercerita padanya karena saya ingin sejenak melupakan dan tak membahas apapun tentang kejadian bullying. Sayangnya setiap sahabat saya itu mengajak jalan, misalnya menemaninya ke mall membeli sesuatu saya senang berjalan dengannya sekaligus malu. Malu karena saya takut orang-orang yang berjalan di belakang kami akan sibuk berkomentar tentang betapa kurusnya saya dibandingkan sahabat saya itu. Saya berjalan bersamanya tapi dengan mengambil jarak. Tentu saja sahabat saya itu heran 😅.

Beberapa tahun lalu saya menangis saat tahu ada layanan psikologi keliling di sebuah kota. Saya membayangkan seandainya dulu saat masih sekolah layanan tersebut ada, mungkin saya akan jadi yang duluan lari-lari menyambut layanan psikologi keliling tersebut untuk curhat masalah bullying yang saya hadapi karena tidak adanya orang lain yang bisa saya ceritakan mengenai bullying tanpa menertawai maupun menghakimi saya saat dulu itu.

Jantung berdebar, tangan berkeringat dingin, rasa cemas berlebihan sesungguhnya merupakan ciri anxiety. Anxiety sebenarnya adalah hal biasa bagi semua orang. Bisa saja orang mengalami anxiety saat mau sidang skripsi, mau menyanyi di panggung, ataupun bertemu seseorang. Namun, yang layak diperhatikan adalah saat frekuensinya terlalu sering dan bahkan terjadi terus menerus bahkan hampir nggak ada penyebab apa-apa yang berbahaya. Pada saya, diduga penyebabnya ya karena pengalaman bullying seperti di atas.

Apa tujuan saya menceritakan kejadian buruk ini? Ya supaya ketika anak ataupun saudara kita (harapannya sih jangan ya) mengalami bullying, kita menganggapnya serius dan tidak malah menambah tertawaan untuk anak tersebut, melainkan berusaha mendengarkannya dan membuatnya merasa berharga.

Selama ini saya menunda menceritakan tentang kejadian bullying yang menimpa saya ini karena ya memang bukan peristiwa yang menyenangkan. Tapi suatu hari saya membaca status WA seorang kawan yang keponakannya dibully di sekolah, lalu juga membaca status seorang ibu yang anaknya dibully teman-temannya di rumah, juga mendengar cerita pengalaman seorang adik yang kakaknya sampai nangis-nangis karena dibully.

Lebih baik mencegah dampak bullying daripada membiarkannya berlarut-larut. Bahkan saat saya tidak sengaja mencari tahu kenapa berat badan anak tidak naik, salah satu tulisan menyarankan orangtua untuk mengecek kondisi anaknya, apakah di sekolah ia dibully atau tidak. Jadi, bullying memang berdampak ke banyak hal tidak hanya anxiety yang kemudian juga bisa memicu depresi tapi bahkan juga ke berat badan dan kesehatan fisik.

Jadi jangan juga menganggap “gapapa dibully biar mental kuat.”

It’s a big NO!

Maka tolong diingat bahwa jangan mengabaikan bullying yang terjadi. The process of healing is a very long road. As what i’ve told you: i forgive the bully-ers but i don’t forget the wound.

Semoga tulisannya nanti bisa dilanjut lagi yang lebih rinci tentang anxiety ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *