Belajar metamorfosis kupu-kupu dan ngengat dengan memelihara ulat

Salah satu keinginan di tahun 2019 lalu adalah memelihara ulat agar bisa melihatnya berubah menjadi bentuk kupu-kupu. Keinginan ini akhirnya terwujud di akhir tahun.

Saat itu saya tersadar ada ulat kecil di daun bawang yang saya beli dari warung sayur. Dipikir daripada dibuang begitu saja, saya menunjukkan ulat tersebut pada A lalu memasukannya ke dalam toples bersama beberapa sisa batang dan daun bawang. Dilihat dari bentuknya saya menduga ulat tersebut akan berubah menjadi ngengat dan bukannya kupu-kupu.

Bagi yang belum tahu bedanya, kupu-kupu aktif di siang hari dan biasanya berwarna-warni. Sementara ngengat aktif di malam hari dan cenderung berwarna gelap.

A excited menanti ulat berubah menjadi kupu-kupu. Sewaktu kami bepergian naik angkot dan turun gerimis serta angin kencang, ia memikirkan ulat di toples yang kami letakan di teras. “Kalau kehujanan bagaimana?” katanya khawatir.

Begitu juga keesokan harinya saat turun hujan deras dan angin luar biasa kencang hingga pintu rumah kami menjeblak terbuka. A terlihat takut akan kondisi angin tersebut tapi tanpa saya duga ia langsung berlari secepat kilat mengambil toples ulat di teras dan lalu meletakannya di dalam rumah.

Ulat daun bawang yang sudah menjadi ngengat

Lalu esoknya saya menyadari ada ulat gendut yang nemplok di tembok depan teras kami. Posisinya setengah melengkung dan ia sudah tak bergerak. Saya menduga pastinya ia sudah akan bersiap menjadi kepompong.

Syukurlah saya tak menuruti keinginan sesaat untuk memindahkan ulat ke dalam toples. Karena ternyata dalam posisi tersebut badan ulat sudah lunak dan jika dipindahkan pasti akan mati. Saya memutuskan untuk mendiamkan dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sore harinya ulat sudah berubah warna menjadi agak pucat. Dan esoknya sudah terbungkus kepompong.

Sore hari

Saya sempat ingin (lagi) memindahkan kepompong tersebut namun ternyata posisinya diharapkan tidak berubah. Karena takut justru malah merusak akhirnya saya diamkan saja sambil berharap kepompong tersebut tidak diutak-atik anak-anak yang lewat di depan rumah kami.

Kami menunggu setiap hari dengan A yang selalu bertanya-tanya. Perkiraan menjadi kupu-kupu adalah 9-12 hari.

Hingga akhirnya di suatu pagi hari ke 10, Abang dan A mendapati kupu-kupu sudah keluar dari kepompong. Alhamdulillah.

Saya mendekati kupu-kupu dan mengulurkan tangan dengan perlahan. Ia kemudian merayap di pergelangan tangan dan jari saya cukup lama. Sayapnya terlihat masih terlalu lunak untuk dikepakan. Ketika akhirnya mengepak berkali-kali, si kupu-kupu pun terbang dan hingga di daun di depan rumah kami.

Oiya kupu-kupu ini adalah kupu-kupu Papilio demoleus.

A tertawa girang melihatnya. Ia melambaikan tangan pada kupu-kupu. Malam harinya ia kemudian mengira kupu-kupu tersebut akan kembali lagi ke rumah kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *