Status: bekerja di rumah

Ada masa-masa di mana saya merasa minder dengan kondisi bekerja di rumah, yaitu ketika beberapa tahun lalu rutinitas pagi hari adalah berjalan-jalan bersama A dan membaca buku bersamanya di pinggir jalan. Ada sebuah kantor yang cukup besar di dekat rumah sehingga setiap pagi area kami ramai dilewati para pekerja kantoran.

Saat itu meski resign dari pekerjaan sebagai pustakawan di sebuah perpustakaan adalah keputusan saya sendiri, namun tetap saja ada sedikit rasa minder melihat para karyawan yang berangkat bekerja selepas menaiki kereta dan dengan kondisi rapi. Sementara saya hanya sendal jepitan, cardigan, bergo, dan celana panjang yang kadang naik sebelah karena mengejar A yang tiba-tiba berlari.

Beberapa orang pun masih menyesali keputusan saya tersebut dan masih menganggap bekerja di rumah adalah sebuah hal yang tidak mungkin bisa mendapatkan sesuatu (yang tentu saja mereka kaitkan dengan uang). Sehingga merasa gengsi manakala menyebut status saya sebagai lulusan kampus tapi “hanya” jadi ibu rumah tangga.

Namun syukurlah perasaan minder itu hanya beberapa bulan saja hinggap di saya. Melihat A yang senang berlarian, menghabiskan waktu membaca buku bersama A, menertawainya yang lari saat hampir dihinggapi kupu-kupu, hingga bahkan kami bisa sesuka hati main ke taman saat hari kerja alias weekdays, dan terutama bisa leluasa menaiki kereta menuju Bogor yang kosong luar biasa, dan seterusnya dan seterusnya, adalah hal-hal yang selanjutnya saya syukuri. Saya tak perlu untuk kesekian ratus kalinya menuruti kemauan orang lain yang tak saya suka. Biarlah orang lain yang merasa gengsi, sementara saya baik-baik saja.

Suatu ketika saat sedang berjalan-jalan kami dihampiri mahasiswa Jepang & Korea yang sedang belajar bahasa Indonesia. Mereka mendapat tugas wawancara mengenai berbagai topik untuk warga lokal. Saat ditanya apa pekerjaan saya, saya pun menjawab senang: ibu rumah tangga dan bekerja di rumah.

6 thoughts on “Status: bekerja di rumah

  • February 6, 2020 at 12:11 pm
    Permalink

    Aku belajar bahwa semua itu ada waktunya. Jadi ya dinikmati saja. Bukankah prioritas masing2 orang berbeda?

    Reply
    • February 8, 2020 at 12:45 am
      Permalink

      Betuuuul sekali.

      Reply
  • February 6, 2020 at 2:10 pm
    Permalink

    Itu yg lagi aku alamin sekarang. Resign dari kerja kantoran dan memilih jadi freelancer yang hampir setiap hari kerjanya di rumah. Bikin gimana gitu kalo pas ada orang nanya “kerja apa?” “Kerja dimana?”

    Reply
    • February 8, 2020 at 12:46 am
      Permalink

      Gapapa nanti semoga akan menjawab dengan bangga: “Di rumah dooonk.” Hehe

      Reply
  • February 11, 2020 at 1:54 pm
    Permalink

    Saya belum pernah kerja kantoran sama sekali, kadang ingin sekali menikmatinya, mengembangkan kemampuan dan keilmuan butuh lingkungan yg supportif., dua hal itu yg susah didapatkan sih

    Reply
    • February 20, 2020 at 1:54 pm
      Permalink

      Betul, Bu. Tapi enaknya kerja nggak ngantor adalah bebas maceeet di jam sibuk hehehe.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *