Bu Kiswanti dan Lintang: dua tokoh inspirasi dalam meraih mimpi

Sekitar 12 tahun yang lalu, saya pernah membaca artikel di sebuah surat kabar mengenai seorang ibu bernama Kiswanti. Kehidupannya sangat sederhana dan tidak biasa sehingga sungguh bernilai bagi yang bisa mengambil inspirasi darinya.

Ibu Kiswanti atau akrab dipanggil Bude Kis berjualan jamu-keliling di daerah Parung, Bogor dengan mengayuh sepeda. Sambil berjualan, ia membawa serta buku-buku yang dimilikinya di keranjang sepeda. Buku-buku yang dibawa adalah buku bacaan untuk anak-anak. Nantinya ia akan berhenti di beberapa titik dan anak-anak di kampung tersebut bisa membaca buku yang ia bawa secara gratis. Ya, Ibu Kiswanti menjalankan perpustakaan keliling dengan cara mengayuh sepeda. Buku-buku yang ia punya adalah hasil dari menyisihkan tabungannya. Bude tak ingin ada anak yang tak mendapatkan akses membaca buku.

Selama sekian tahun Bude mengayuh sepeda dan membawa buku berkeliling, hingga kemudian mulai banyak yang mengenalnya dan ada pula yang memberikan bantuan untuknya. Bude akhirnya pelan-pelan mendirikan perpustakaan di rumah, buku-buku pun semakin bertambah jumlahnya. Hingga akhirnya Bude tak lagi berkeliling dengan sepeda. Anak-anaklah yang datang ke rumahnya untuk membaca dan meminjam buku serta melakukan berbagai aneka kegiatan kreatif. WARABAL alias Warung Baca Lebak Wangi, nama perpustakaan milik Bude.

Pada saat itu saya sungguh terpukau membaca tulisan tersebut. Saya memiliki cita-cita yang serupa dengan Bude. Hanya saja saat itu saya belum berbuat apa-apa. Bude, dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan, mampu tetap berbuat yang terbaik dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Saya lantas berdoa semoga bisa bertemu dengan Ibu Kiswanti suatu hari nanti dan juga bisa turut menjadi orang yang bermanfaat dengan membuka akses bahan bacaan untuk masyarakat.

Ditambah lagi di tahun-tahun tersebut, saya membaca buku-buku karya Andrea Hirata mengenai kehidupan anak-anak pesisir yang serba kekurangan namun haus ilmu dan tak mengubur mimpi-mimpinya. Makin bersemangatlah saya untuk berbuat sesuatu. Namun sayang, saya masih dipenuhi dengan kungkungan rasa tidak percaya diri. Bahkan pada saat yang sama saya juga masih berusaha berdamai dengan keadaan saat itu di mana saya diketahui memiliki MVP di jantung yang katanya tidak akan bisa hilang selamanya.

Saya luar biasa marah karena merasa mimpi-mimpi saya untuk bisa melakukan olahraga menyelam alias diving di lautan menjadi kandas karena ada sebuah gejala di jantung yang tentunya terlarang untuk melakukan diving.

Saat itu saya memiliki beberapa ide di kepala tapi tidak berani saya utarakan atau sampaikan karena tidak percaya diri. Namun semakin lama, dorongan untuk berbuat itu semakin kuat. Sosok Lintang dalam Laskar Pelangi selalu menggiring saya agar keluar dari lingkaran rasa tidak percaya diri. Bayangan Lintang yang membaca buku dalam temaram cahaya lampu terus menari-nari di kepala.

Lintang terus menyudutkan saya hingga akhirnya saya memberanikan diri datang ke sebuah panti. Saya memberanikan diri membawa buku-buku bacaan anak yang saya miliki untuk anak-anak di sana dan membiarkan mereka mengacak-ngacak dan mengeksplorasi buku saya.

Di panti itu beberapa anak tak memiliki keluarga dan orangtua, beberapa lagi ada yang masih memiliki keluarga namun berasal dari golongan tak mampu. Mereka semua berbinar-binar membaca buku yang saya bawa. Dan setiap saya datang lagi dan lagi, mereka selalu menanyakan buku apalagi yang saya bawa. Sungguh, kebaikan berbagi itu sangat besar dampaknya. Padahal yang saya lakukan hanyalah sebuah hal kecil. Saat itu saya juga menjadi mengerti dan ingat tentang makna zakat untuk berbagi pada sesama yang diajarkan dalam agama Islam. Bahwa ketika berbagi, kebaikan itu akan mengalir jua ke diri kita.

Saya yang awalnya selalu marah dan murung menjadi bersemangat setiap datang ke panti dan disambut anak-anak yang melonjak-lonjak menanyakan apakah saya membawa buku bacaan.

Saya yang awalnya tidak pernah bertanya apa-apa di ruang perkuliahan jika ada yang tidak saya mengerti, kemudian menjadi memberanikan diri untuk bertanya pada pengurus panti mengenai apakah mereka memiliki buku bacaan lain atau berniat mendirikan perpustakaan? Saya pada saat itu tidak berani menjanjikan apa-apa untuk mereka sehingga hanya bertanya dan menyimpan ide-ide terlebih dulu di kepala saja.

Dengan ide-ide tersebut, saya kemudian mencoba mengajak beberapa teman yang dirasa mau untuk terlibat mengumpulkan buku bacaan untuk panti dan sekaligus melaksanakan sebuah acara sederhana untuk anak-anak.

Aneh ya. Padahal jika ada rapat acara maupun musyawarah selama bertahun-tahun saya pun tak pernah berani menyampaikan ide. Jika guru mengajukan pertanyaan dan saya tahu jawabannya pun saya tak berani tunjuk tangan.

Ide sudah dikeluarkan, kawan sudah mengiyakan. Namun hal yang kemudian menjadi kendala utama tentunya adalah masalah dana. Saya pun berpikir untuk berjualan donat.

Karena tidak bisa dan tidak pernah memasak maka saya pun membeli tepung donat instan. Meski bentuknya instan, bagi saya tetap agak susah membuatnya. Rasa khawatir berganti bangga ketika donat sudah selesai digoreng dan siap dijual. Rupanya kemudian kendala muncul lagi karena saya dilarang untuk berjualan oleh orangtua karena satu dan lain hal.

Dua puluh lima donat pun akhirnya batal dijual. Syukurlah di tempat yang tadinya memang akan menjadi area berjualan saya, salah satu sanak famili menghibur dan membeli seluruh donat tersebut dan membagikannya ke anak-anak tetangganya. Dari situ saya belajar bahwa tidak semua ide baik akan diterima dengan baik pula.

Singkat cerita, dana terkumpul sedikit demi sedikit. Jika tidak salah ingat, total dana untuk acara yang kami butuhkan adalah kurang lebih sebesar Rp 80.000. Jumlah yang cukup besar bagi saya dan teman-teman saat itu yang memang memulai dari nol.

Berkat bantuan dan kerja sama teman-teman, hari itu kami sukses mengadakan acara. Sejak itulah, saya beberapa kali merancang acara rutin per tiga hingga enam bulan sekali di panti tersebut dan mengumpulkan buku sedikit demi sedikit sebagai bahan bacaan untuk anak-anak di panti sekaligus mendirikan perpustakaan untuk mereka.

Belajar mencintai buku

Acara yang digelar biasanya sederhana saja untuk sekitar 15 anak tersebut, yaitu mengundang pemateri yang bisa mengajarkan membuat sketsa, melukis di kaos, mendaur ulang koran, hingga pergi outbond dan melakukan pengamatan burung dan menanam di sebuah hutan mangrove.

Hasil karya
Hasil daur ulang yang dicetak

Pada saat itu banyak sekali keajaiban yang terjadi. Misalnya saja saat akan pergi ke hutan mangrove tentunya kami harus menyewa mobil dan membutuhkan uang untuk bensin. Tiba-tiba saja ada yang berdonasi Rp 1.000.000 hingga kebutuhan dana langsung tertutup semua dan kami bisa berangkat.

Mengenal lahan basah dan ekosistemnya

Hal paling menyenangkan adalah kenyataan bahwa dengan membuat acara-acara tersebut saya semakin menyadari bahwa sebenarnya saya mampu untuk berbuat dan melakukan sesuatu yang selama ini selalu tertutup dengan rasa tidak percaya diri. Saya pun berniat untuk juga ingin mengadakan sebuah acara kecil nantinya di Warabal milik Bude.

17 Agustus 2010, ketika pada akhirnya setelah menempuh jalur panjang dengan naik kereta, angkot, dan ojek hingga akhirnya melihat langsung plang bertuliskan WARABAL di depan rumah, tak terkira rasa senangnya.

Saya menapaki karpet, tempat anak-anak membaca buku-buku yang banyak sekali jumlahnya, tempat cita-cita dirintis, dan impian diraih, dengan hati membuncah-buncah.

Beberapa anak saat itu nampak asyik membaca buku dan bermain. Bude sedang sibuk menerima tamu sebelum akhirnya bisa mengobrol dengan saya. Bahagia tak terkira sekali ketika pada akhirnya bisa bertemu langsung dengan tokoh idola. Bude bahkan mengajak berbuka puasa bersama namun sayangnya saya harus buru-buru pulang karena lokasi Warabal yang cukup jauh dari rumah. Kami pun berharap bisa terus menyambung silaturahim.

Bersama Bu Kiswanti

Beberapa bulan kemudian saya dan kawan-kawan pun mengadakan acara yang serupa seperti di panti, kali ini diadakan di Warabal Bu Kiswanti. Waktu itu acaranya adalah mendaur ulang kertas dengan juga mengajak serta pengisi materi yang mumpuni.

Seiring rutinnya acara yang dibuat di panti dan juga pendistribusian buku bacaan, saya dan kawan-kawan pun memutuskan membuat nama untuk komunitas kami. Saya mengajukan nama Komunitas Kelapa yang merupakan singkatan dari KElana, LingkungAn, & PerpustakaAn. Teman-teman setuju namun rasanya janggal kalau hanya satu kata, hingga akhirnya kami menamakannya sebagai Komunitas Kelana Kelapa.

Apakah selalu berjalan lancar? Tidak.

Setelah kami lulus kuliah, perlahan semua relawan semakin sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Saya tak menyalahkan karena prioritas setiap orang berbeda-beda. Acara demi acara yang biasanya kami adakan setiap rentang waktu sekian bulan sekali harus tertunda karena saya tak bisa menyelesaikan semua rincian sendirian. Saya pun tak lagi datang ke panti karena mereka sudah pindah tempat dan buku-buku yang selama sekian tahun sudah kami kumpulkan pun sayangnya kurang dijaga dengan baik hingga kabarnya hilang.

Berdua, bersama seorang sahabat, saya terus berusaha meneruskan apa yang sudah kami mulai. Beberapa kali kami melakukan packing buku hanya berdua. Dan ketika masing-masing kami sudah menikah, kami pun packing double bersama suami. Lalu bertambah lagi satu relawan yang Alhamdulillah loyal untuk berbelanja dan bersedia melakukan packing buku juga. Sehingga pada akhirnya komunitas kami efektif menjadi tiga orang saja. Tak apa, semoga dapat terus bermanfaat.

Pada akhirnya yang bisa kami terus jalankan hanyalah mengirimkan buku-buku bacaan untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang sulit terjangkau. Sejak awal salah satu fokus utama komunitas kami memang seperti itu. Alurnya adalah taman baca dari berbagai daerah mengirimkan profil komunitasnya kepada kami untuk direview kemudian baru akan kami kirimkan buku-buku bacaan. Ada yang kami kirimkan cepat, ada juga yang lambat karena bergantung pada ketersediaan buku di kami. Selain buku, kami juga pernah mengirimkan bantuan sepatu untuk anak-anak di Riung, NTT dan juga tas, serta berbagai alat peraga pendidikan untuk anak-anak di Pelosok Sukabumi.

Anak-anak di Riung, NTT
Anak-anak Sukabumi

Kami berusaha bekerja sama dengan komunitas lain yang memiliki waktu dan tenaga berlebih hingga bisa turun langsung ke lokasi yang membutuhkan, sementara kami mendukung dengan berbagi buku bacaan. Untuk wilayah Sukabumi kami bekerja sama dengan Relawan Sabumi. Pada tahun lalu kami pun mendapatkan undangan dari mereka terkait potret pendidikan di Sukabumi. Pada event tersebut relawan menyuguhkan foto-foto yang dijepret di berbagai pelosok Sukabumi selama kegiatan dan juga berbagi kisah dalam acara yang dilangsungkan selama 7 hari itu. Video perjalanan tersebut bisa dilihat di sini:

Meski selama kurun waktu belasan tahun ini Kelana Kelapa masih banyak sekali kekurangan di sana-sini, namun saya bersyukur sudah memutuskan untuk berusaha mengikuti jejak Bu Kiswanti dan menjadikan Lintang sebagai pendorong sehingga membuat saya berani merancang beberapa acara sederhana dimulai dari 12 tahun yang lalu.

Ada yang berkata Lintang dalam Laskar Pelangi tersebut hanyalah tokoh cerita fiksi. Tapi bagi saya bisa saja ada banyak sosok Lintang yang bernasib sama di sudut manapun di Indonesia. Jika pada saat itu saya tetap berada dalam lingkaran tidak percaya diri, mungkin hingga saat ini saya tidak akan melakukan apa-apa.

Sejak 12 tahun lalu, salah satu mimpi-mimpi saya juga adalah membuat perpustakaan yang bermanfaat untuk masyarakat. Buku-buku dan tempat di rumah sudah tersedia namun karena tidak percaya diri, saya tak kunjung mengajak anak-anak sekitar rumah untuk membaca buku. Syukurlah pada tahun 2018, perpustakaan di rumah sudah berhasil saya buka untuk anak-anak sekitar.

Sayangnya perpustakaan di rumah masih belum dapat efektif kami buka. Saya rupanya masih belum bisa fokus dan membagi waktu benar-benar dengan anak-anak di rumah. Sehingga terkadang perpustakaan rumah saya tutup dulu demi anak kami. Semoga suatu hari nanti kami tetap bisa mewujudkan mimpi membuat perpustakaan bermanfaat tersebut. Aamiin.

Terima kasih kepada semua sahabat dan keluarga yang terus menemani dan mendukung saya untuk berbagi hingga saat ini.

Terima kasih untuk Bu Kiswanti yang sudah terus menebar kebaikan. Warabal kini sudah berlantai tiga dan semakin bermanfaat! Dan terima kasih Pakcik Andrea Hirata sudah berbagi kisah tentang Lintang.

Warabal di tahun 2013

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *