Manfaat bermain outdoor untuk anak

“Duh, duduk dong! Jangan jalan-jalan terus. Ni anak nakal banget deh!”

Familiar dengan kalimat tersebut? Mungkin kita pernah mendengar kalimat tersebut dari orang lain dan ditujukan untuk kita di saat kita kecil. Atau bisa juga terjadi saat kita kecil dan perkataan itu ditujukan kepada teman sekelas kita saat TK yang tidak mau duduk diam. Atau mendengarnya di tempat umum sebagai perkataan seorang ibu pada anaknya. Atau mungkin diucapkan oleh orang lain pada anak kita?

Hmm… benarkah seorang anak yang tidak mau duduk diam adalah seorang anak yang nakal?

Seorang anak perlu terus bergerak untuk mengembangkan dirinya. Pada usia dini motorik kasar tubuhnya harus terus diasah agar di kemudian hari kemampuan motoriknya tersebut berfungsi maksimal. Dan hal tersebut tidak mungkin bisa dicapai jika si anak dituntut untuk selalu duduk dan diam saja.

Memanjat, menggenggam, berayun, memegang, berjalan, berlari, melompat. Semua itu adalah kegiatan yang sangat dibutuhkan untuk anak terutama anak usia dini. Jika menggenggam dan memegang berkaitan dengan motorik halus, maka memanjat, berayun, berjalan, berlari, dan melompat adalah berkaitan dengan motorik kasarnya.

Namun puluhan tahun lalu ilmu pengetahuan tentu belum berkembang seperti sekarang. Sehingga kita terus dicekoki dengan kesimpulan bahwa anak yang tak mau duduk diam di kelas adalah anak yang nakal. Setidaknya itulah yang selalu saya dengar saat saya TK dan SD. Anak-anak hanya boleh bebas berlarian dan melompat hanya saat jam istirahat. Sesudahnya semua harus kembali duduk dan tak jalan-jalan meninggalkan bangkunya.

At the core of this snarled web is a basic misconception: that learning is inseparable from quiet, focused, still, and seated study.The Indoor epidemic: how parents, teachers, and kids can start an outdoor revolution hlm. 3

Satu pertanyaan muncul ketika anak pertama saya lahir dan mulai beranjak menuju 1.5 tahun. Apakah saya menginginkan anak saya untuk juga duduk, diam, dan tenang di saat ia bersekolah TK nantinya? (saat itu saya sudah mulai mendengar mengenai homeschooling namun belum mencari tahu lebih dalam mengenai apa dan bagaimana homeschooling).

Tapi yang jelas saat itu saya menjawab pertanyaan yang muncul dari diri saya sendiri dengan berpikir bahwa tidak semua anak bisa untuk duduk dan tenang seperti saya dulu waktu kecil. Sehingga jika anak saya tidak bisa diam dalam beberapa kesempatan rasanya tak masalah. Sebagai tambahan, sejak kecil saya selalu menjadi anak penurut dan tak pernah berani melakukan banyak hal. Saya selalu duduk diam di kelas saat TK, menuruti semua instruksi guru dan orangtua, dan ketika jam istirahat pun lebih banyak duduk dan tak berani melakukan banyak permainan. Qadarullah saat itu pun juga memang ada anak yang senang mem-bully sehingga semakin saya tidak punya keinginan untuk melakukan banyak hal.

Ketika sudah menjadi orangtua, saya menemukan banyak tulisan bahwa tidak hanya setiap anak itu unik tetapi juga bahwa bergerak dan melakukan eksplorasi memang adalah kebutuhan seorang anak apalagi anak di usia dini. Maka, konsep anak yang tak mau diam adalah anak yang nakal tentulah salah besar. Adalah sebuah kewajaran jika seorang anak selalu bergerak dan tak bisa diam. Tentu kita wajib melarang dan mengingatkan jika anak tak bisa diam dan menimbulkan bahaya. Misalnya memanjat kursi saat sedang berada di dalam mobil, berlarian saat lantai licin, ataupun saling mendorong di kolam renang.

Namun, jika tidak menimbulkan bahaya dan kita merasa terganggu HANYA karena si anak terus melompat tentulah bukan tindakan yang tepat untuk menyebutnya sebagai anak nakal. Apalagi jika di usia dininya, ia tidak mau duduk di kursinya saat berada di sekolah TK. Karena bergerak memang sesuatu yang ia butuhkan dan harus lakukan.

Lalu bagaimana agar geraknya tersalurkan? Ajaklah ia bermain di luar ruangan alias outdoor. Bisa berupa taman kota, hutan kota, atau halaman belakang rumah jika ada.

Bermain (dalam tulisan ini yang dibahas adalah bermain sambil menghirup udara di luar ruangan, bukan playground di mall) adalah kegiatan yang memiliki sederet manfaat untuk anak.

Mencintai alam dengan belajar langsung di alam

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka akan terus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Terkadang satu pertanyaan bisa beranak pinak menjadi 5 pertanyaan. Terkadang satu pertanyaan masih belum puas dan akan diulang lagi hingga 10x. Manfaatkan momen tersebut untuk mengajak mereka belajar langsung di alam dan kita bisa pancing mereka untuk bertanya.

“Ini ada biji apa ya? Kita pungut, yuk!”

Lalu si anak pun memunguti biji-bijian sambil kita bertanya, “Warnanya apa ya? Kira-kira pohonnya yang mana ya? Ayo kita lihat pohonnya. Adek tahu tidak kalau pohon itu bisa kasi kita oksigen banyak-banyak untuk bernafas. Pohon juga bisa menjadi tempat burung bersarang dan mencari makan. Eh, lihat deh. Kalo adek kan makannya pakai mulut, nah kalo pohon dia mencari makannya dengan akar yang ada di bawah tanah.”

Dengan satu kegiatan bermain-memungut-biji-bijian-di-bawah-pohon saja sudah memiliki banyak manfaat untuk anak: motorik kasar yang terasah, melatih kepekaan panca indera matanya untuk melihat bentuk dan rupa biji, dan bagian-bagian tumbuhan, melatih kepekaan hidung untuk mencium wangi bunga, melatih motorik halus untuk meraba ranting dan batang pohon, menggenggam biji, hingga melakukan aktivitas berjongkok-bangun-melompat untuk lebih dekat melihat sesuatu.

Kids, especially toddlers and young children, are champion squatters, happily spending most of their days alternating between careening about bipedally, crawling through the mud and bushes, or hunkering down in a squat to examine bugs and dig in the dirt.The Indoor epidemic: how parents, teachers, and kids can start an outdoor revolution hlm. 8

Belajar konservasi lingkungan

Dengan belajar langsung di alam kita juga jadi bisa mengenalkan konsep sebab-akibat pada anak. Misalnya selama ini ia belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan lalu suatu hari ia melihat sungai kecil di taman kota. Ingatkan lagi tentang membuang sampah pada tempatnya lalu jelaskan mengenai air sungai yang akan bermuara ke laut. Jika membuang sampah di sungai maka akan mengalir ke laut juga dan sampah tersebut bisa mencemari laut rumah tempat ubur-ubur, penyu, dan ikan.

Taking kids outdoors into unstructured environments may help. The way that we interact with the denizens of the woods—the birds, voles, skunks,
bugs, and the rest—can determine how well we are able to protect them.
Going out, into nature, and making contact with the creatures out there can be a way for us to build rapport with other species, to come to some understanding of their lives and wants.
” Hlm. 99

Mengenal sang Pencipta

Pada usia 0-7 tahun adalah waktu terbaik untuk mengenalkan keindahan alam ciptaan Allah. Kenalkan si anak dengan Allah melalui seluruh ciptaanNya yang indah. Latih anak untuk mengucapkan lafaz syukur karena bisa menyaksikan ciptaan tersebut: rumput yang hijau, pohon yang tinggi, hingga kupu-kupu yang hinggap.

Ketika si anak sesekali misalnya iseng memukul pohon kita bisa mengingatkannya lagi dengan, “Adek tahu tidak siapa yang menciptakan pohon? Pohon itu kan bertasbih kepada Allah. Dia sedang berzikir tapi kita tidak bisa dengar. Nggak boleh pukul pohon ya.”

Biasanya anak akan takjub dan berkata; “Masa sih pohon berzikir? Memangnya punya mulut? Kenapa kita tidak bisa dengar?” dan seterusnya.

Bermain tidak selalu harus membeli mainan

Dengan mengenalkan anak bermain di luar ruangan, kita bisa sekaligus mengajarkan anak bahwa bermain itu tidak harus selalu dengan cara membeli mainan di toko, mall, dan sebagainya. Kita bisa bermain tumpuk daun, bermain tebak-tebakan biji pohon, bermain tebak nama burung, dan bahkan hanya sekedar berlari-larian.

Belajar di mana saja

Bermain di luar ruangan sekaligus mengajarkan pada anak bahwa kita bisa belajar di mana saja dan kapan saja, tidak selalu terbatas ruang dan waktu, juga sekat, tembok, kursi dan meja. Kita bisa meminta anak mengumpulkan ranting lalu mengajak mereka mengurutkan mulai dari ranting paling pendek hingga yang paling panjang. Konon ini adalah cara paling awal sebelum mengajarkan konsep perhitungan. Dalam metode Montessori juga diajarkan untuk memulai dengan konsep konkret baru ke abstrak.

Selanjutnya untuk belajar konsep hitung kita bisa menggunakan biji-bijian yang sudah dikumpulkan. Dan mulailah belajar menghitung di bawah kerindangan pohon. Dijamin akan sangat seru!

Bermain di alam = mengurangi stress

Penelitian mengungkapkan bahwa dengan berada di luar ruangan, lingkungan yang alami itu memiliki dampak positif bagi perkembangan perilaku anak. National Wildlife Federation mengatakan bahwa bermain di luar ruangan membantu anak menjadi lebih sehat secara fisik dan mengurangi stress, meminimalisir anxiety, dan membangkitkan kebebasan dalam dirinya. Bahkan berada di luar ruangan juga membuat anak menjadi lebih bahagia.

Lebih sehat

Anak-anak yang banyak bergerak di luar ruangan menjadi lebih sehat dan biasanya terhindar dari obesitas. Bermain di alam juga baik untuk kesehatan jantung.

A day spent outdoors, navigating the natural physical challenges
presented by unstructured nature, is more in keeping with how our bodies
respond to exercise. Spending all day moving about in natural environments
regulates our metabolism, keeps our muscles and bones strong and healthy,
sharpens our vestibular system (balance), and may have other benefits,
including keeping parts of our bodies other than our waistlines healthy and
robust.
(Hlm. 50)

Mengurangi screen-time

Anak-anak yang terlalu banyak bermain handphone, menonton youtube, PS, dan permainan digital lainnya dalam satu hari memiliki berbagai permasalahan di kemudian hari. Ada batita yang membanting HP ketika video yang ditontonnya tidak terputar karena sinyal terhenti, ada anak yang bermain games terus menerus, ada lagi anak yang menonton youtube hingga tengah malam.

Mengajak anak bermain di luar ruangan berarti mengurangi waktu mereka bermain hp, ipads, ps5 dan sebagainya. Anak pun terhindar dari digital distraction.

They’ll be free, and roughly defining
their minutes according to the world around and within them, thus, learning and thinking and experiencing the world and themselves in it. No screen can deliver that.”

Bermain itu penting

Sampai di sini apakah masih merasa keberatan jika anak bermain dan tak selalu duduk diam? Atau masih keberatan karena menganggap lingkungn outdoor adalah sebuah tempat yang penuh bahaya?

Mari melihat lagi lebih dekat ke alam sekitar. Ke pepohonan yang memberi kita oksigen, buah-buahan yang bisa kita makan, tanah yang kita pijak, dan langit biru tanpa polusi. Bukankah kita membutuhkan semua itu? Bersediakah jika anak-anak dijauhkan dari hal itu semua?

Understanding the relationship between the outdoors and unstructured play is vital to understanding just why getting children outside into natural
environments is so essential for their well-being, their health, and their intellectual, social, and emotional development. But even beyond those crucial factors, understanding outdoor play is necessary in order to delve into the murky waters of self-actualization and the way children begin to develop a sense of
individual and social identity.” Hlm. 123.

Apakah mengajak anak bermain di outdoor berarti harus selalu pergi kemping di hutan? Membeli tenda ultralight atau kompor kemping paling canggih? Tentu saja tidak. Kita bisa saja berjalan berkeliling taman kota sambil melihat burung-burung dan juga tupai. Lebih seru lagi kalau ikut komunitas yang memiliki minat yang sama.

Ada lagi kah yang merasakan manfaat mengajak anak bermain di outdoor? Yuk, tulis di komen!

Daftar bacaan:

  1. The Indoor epidemic: how parents, teachers, and kids can start an outdoor revolution. Erick Shonstrom. Rowman & Littlefield, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *