Tes COVID-19 di RS terdekat lewat aplikasi Halodoc

Berdasarkan data yang ada dalam situs pemantauan COVID-19 DKI Jakarta hingga 27 Juni 2020, ada 52.812 kasus positif yang ada di Indonesia. Untuk DKI Jakarta sendiri ada 10.583 kasus positif COVID-19 terhitung sejak 21 Januari 2020.

Jumlah kasus harian sejak seminggu terakhir selalu mencapai 1000-an. Puncak kurva di Indonesia saat ini pun belum terlihat. Sehingga sangat disayangkan sekali ketika mengetahui di mana-mana masih ada saja masyarakat yang tidak perduli. Misalnya saja tidak memakai masker saat pergi ke keramaian seperti pasar dan tempat olahraga, tidak rutin mencuci tangan dan berganti baju ketika pulang ke rumah, membawa anak ke tempat ramai, hingga tidak percaya bahwa COVID-19 adalah benar adanya. Yang terakhir itu sungguh kebangetan sih. Lha wong pasien yang meninggal pun juga sudah banyak kok ya masih nggak percaya.

Dari data DKI Jakarta lagi, pasien yang meninggal ada 632 orang. Sementara jumlah yang sembuh mencapai 5.610 orang. Dengan data seperti itu apakah kita berhak bilang, “Ah, banyakan yang sembuh kok daripada yang meninggal.”

Nope. Kita tidak bisa berkata seperti itu dan menganggap mereka yang berpulang adalah sekedar statistik. Tahukah kau bahwa yang meninggal itu punya keluarga, istri/suami, anak, adik, kakak, ataupun orangtua yang sangat sedih karena ditinggalkan? Bayangkan kalau itu terjadi pada kalian-kalian.

Bahkan tanpa ketidakperdulian pun, proses penularan COVID-19 tetap berbahaya karena tidak munculnya gejala alias no symptom pada orang tertentu. Bisa saja seseorang sebenarnya tertular virus tersebut tapi tidak menimbulkan gejala apa-apa. Ia pun pulang ke rumah dan bertemu keluarganya tanpa mencuci tangan atau mandi terlebih dulu. Keluarga yang ada di rumah pun terpapar dan akhirnya harus dirawat di RS.

Baca juga: Bagaimana agar terhindar dari penularan COVID-19

Inilah pentingnya dilakukan tes untuk mengetahui apakah seseorang terpapar COVID-19 atau tidak. Saat ini daerah-daerah terutama DKI Jakarta sudah semakin gencar melakukan tes tersebut.

Awalnya tes dilakukan hanya kepada nakes yang memang berpotensi lebih tinggi untuk tertular. Nakes berpotensi 5x tertular lebih tinggi dari yang lainnya karena menghadapi pasien setiap harinya. Namun kemudian tentunya tes ini juga diberikan dan bisa diakses oleh masyarakat umum.

Ada dua tes yang biasanya dilakukan. Yaitu tes rapid dan tes swab alias polymerase chain reaction (PCR). Rapid test dilakukan untuk mengetahui adanya antibodi yang sudah terbentuk. Tes rapid berupa pengambilan sampel darah. Sementara tes swab adalah pengambilan sampel dahak melalui hidung. Jika pada rapid test ternyata seseorang dikatakan reaktif maka kemudian ia akan dirujuk untuk melakukan tes swab (PCR).

Seorang kawan bercerita bahwa kantornya mengadakan rapid test dan cukup banyak yang reaktif. Kantor sang kawan pun diliburkan. Saya juga sempat diajak oleh sanak famili untuk dilakukan tes rapid namun karena RS yang melaksanakan rapid test pada saat itu baru ada satu dan jauh sekali dan malah menimbulkan kekhawatiran tertular di perjalanan, saya akhirnya menolak ajakan tersebut.

Kemajuan teknologi kini semakin pesat dan memiliki banyak manfaat di tengah pandemi seperti ini. Misalnya saja banyaknya webinar dan meeting via zoom dan google meet tentunya sangat memudahkan pekerja untuk menghindari pertemuan tatap muka. Ditambah lagi peluang untuk terpapar COVID-19 juga lebih besar jika berada di ruangan ber-AC lebih lama.

Salah satu teknologi yang memudahkan adalah adanya aplikasi Halodoc yang bisa diunduh di playstore ponsel kita. Halodoc memungkinkan terwujudnya telemedicine alias pengobatan jarak jauh.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pengobatan tatap muka tentulah lebih baik untuk pemeriksaan lebih mendalam. Namun, di saat pandemi seperti ini terutama jika tidak sangat mendesak sekali tentunya akan lebih baik mengurangi keramaian di RS dan melakukan apa-apa yang bisa dilakukan dari rumah. Misalnya saja saya pernah berkonsultasi via Halodoc sekitar sebulan yang lalu untuk kedua anak saya yang mengalami diare. Saya merasa sangat khawatir jika harus ke RS sementara di saat yang sama kedua anak saya tidak juga sembuh dengan obat diare yang dibeli di warung. Akhirnya saya menggunakan Halodoc untuk berkonsultasi dengan dokter anak yang kemudian memberikan resep obat diare. Syukurlah sesudah meminum obat, kedua anak saya berhenti diare. Kami pun tidak harus pergi mengantri ke RS. Itulah manfaat dari telemedicine yang Alhamdulillah bisa kami dapatkan.

Nah, ternyata di aplikasi Halodoc, ada juga nih pilihan untuk melakukan COVID test terdekat di RS. Aplikasi Halodoc akan memilihkan RS maupun klinik yang terdekat dengan lokasi kita. Halodoc bekerja sama dengan lebih dari 20 RS dan klinik untuk melakukan tes COVID-19.

Seperti ini nih contohnya:

Nah, nanti kita bisa pilih mau melakukan tes COVID yang mana dan membuat perjanjian dengan RS maupun klinik tersebut. Nantinya bisa memasukan identitas dan melakukan pembayaran.

Cepat dan mudah ya! Jadi tidak perlu ujug-ujug datang lalu kecewa karena antrian RS meluber. Lebih seram lagi jika malah jadi terpapar karena kekurangtahuan kita.

Senangnya ya teknologi semakin maju sehingga memudahkan kita untuk berkegiatan dan berkonsultasi terutama di tengah pandemi seperti ini.

Semoga pandemi segera berlalu dan kita semua bisa sehat dan selamat. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *