4. Sarasah

28 November 2009 05.00 Saya terbangun dan merasakan udara dini hari lebih dingin dari biasanya. Pastilah semalam hujan turun dengan luar biasa lebatnya. Saya membuka jendela dan terpana. Mengira mendung masih ada di luar sana, namun tidak. Tidak sama sekali. Langit biru seperti hari-hari sebelumnya, awan putih bersih seperti hari-hari sebelumnya, dan tebing yang kembali…

Continue Reading

3. Keheningan yang Berubah

Sama seperti malam-malam sebelumnya, Malam idul adha di tempat ini sepi sekali. Tetap hanya suara jangkrik, tonggeret, siamang, dan kali ini ditambah anjing hutan yang memecah keheningan malam Lembah Harau. Saya, Mamak, dan Mamak Ika berjalan menembus jalan kecil untuk menghadiri undangan seseorang yang mengadakan selamatan karena pindah rumah. Tidak ada penerangan di jalan kecil itu. Lampu…

Continue Reading

2. Keheningan Sebuah Lembah

Kami tiba di rumah Mamak di Pekanbaru pukul setengah dua siang. Disambut dengan dua wajah ramah kakek-kenek. Sang nenek adalah kakak pertama Mamak. Deretan foto dan plakat menunjukkan pekerjaan kakek sebagai seorang penulis dan pembicara. Esoknya, sosok kakek yang sedang duduk menghadap meja, dengan kertas-kertas di hadapannya, sesekali berpikir lalu kemudian menggoreskan penanya dalam keremangan…

Continue Reading

1. Titik Biru

Saya menatapnya dari atas sampai bawah, dan dia balas menatapku tajam. Sekian detik kemudian saya nyengir pada si biru dan berkata dengan girang; “Kali ini kau ikut ke Sumatera Barat, Boi!” Si biru adalah panggilan kesayangan untuk sebuah -kalau mau dikatakan- carrier milik Abang yang berulang kali saya pinjam ke sana ke mari: Malang, Tulung…

Continue Reading

Tak berjudul

Di tepian sawah aku termangu Termangu dalam keheningan yang ditimbulkan oleh sepinya sebuah lembah. Yang kudengar hanyalah bunyi gesekan kaleng pengusir hama padi yang tertiup angin. Segala yang kulihat di hadapanku sungguh luar biasa…

Continue Reading