Menanti hujan

September, 2012

Saya yang penasaran dengan skipper atau skipper yang penasaran dengan saya.

Kalimat itu terlontar ketika untuk kedua kalinya spesies ini nemplok dengan manisnya saat saya dengan sukarela mengulurkan tangan ketika dia terbang. Kamera, yang dipegang dengan tangan kanan, saya angkat pelan-pelan lalu diarahkan kepadanya. Ia tetap tak bergeming, hanya menatap saya di tengah sinar matahari yang dengan vulgar menyengat kami terang-terangan.

Entah ini spesies yang sama dengan yang singgah di tangan saya pada bulan Desember tahun lalu atau tidak. Tapi kali ini memang dengan kondisi yang jauh berbeda.

September ini masih musim kering rupanya. Air di rumah kami bahkan menipis dan tak kunjung keluar saat dibutuhkan. Sehingga kami harus menampung air dalam ember, dan akibatnya rumput di halaman belakang pun harus rela hanya mendapat jatah sisa-sisa.

Maka background skipper untuk sesi foto kali ini adalah rerumputan kering kerontang dan bukannya kehijauan.

Saat itu tak ada rimbun pepohonan yang menghalangi. Di antara suhu menjelang siang yang semakin meningkat dan dengan menenteng kamera macam itu hanya dengan sebelah tangan, ditambah dalam kondisi jongkok dan berusaha tak bergerak sesenti pun, kami berdua (saya lebih tepatnya) berpeluh dengan “mandi matahari musim kemarau”.

Seolah kami saling berbisik mengenai harapan akan musim hujan yang datang kemudian, dan berdoa akan bulan-bulan selanjutnya yang semoga dipenuhi keberkahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *