Kejutan

Ada entah berapa kali kejutan menyenangkan yang terjadi dalam hidup saya. Dan saya rasa setiap orang juga pernah mengalaminya. Kejutan ini tak selalu terjadi saat ulang tahun, juga tak terjadi setiap hari. Tapi yang jelas semua itu membekas secara nyata dalam ingatan.

Misalnya saja saat saya secara tiba-tiba terkejut ketika dokter memberi tahu bahwa saya harus mengenakan brace untuk kesehatan tulang punggung selama jangka waktu minimal 2 tahun. Dengan itu saya juga tak boleh membawa tas dengan berat melebihi 1 kg.

Allah rupanya memang punya caranya sendiri. Tak berapa lama setelah pertemuan dengan dokter itu, saya dipertemukan dengan Om Caca alias Riza Marlon. Fotografer handal spesialis alam liar (wildlife photography), yang selama ini saya kagumi, dalam sebuah acara seminar ekowisata di salah satu Universitas.

Kejutan lain misalnya saat saya pergi ke Bandung menghadiri sebuah pernikahan famili. Tanpa disangka, acara tersebut digelar di Saung Angklung Mang Udjo, tempat yang selama ini sangat ingin saya kunjungi. Saya baru mengetahuinya saat kaki sudah menginjak area saung angklung tersebut. (cerita lengkapnya ada di sini)

Dulu, saya sempat menjadi orang yang perduli luar biasa pada sebuah hari ulang tahun. Meski tak merayakannya, tapi bagi saya ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman dan keluarga adalah hal paling penting sedunia. Sehingga jika mereka lupa, dunia seolah runtuh.

Ini terjadi saat saya baru kelas 1 SMA. Saat itu baru beberapa minggu menjalani hari di sekolah baru, dan tentu tak ada yang mengetahui perihal ulang tahun ini. Rupanya teman-teman SMP dan teman main di rumah juga sedang lupa dengan hari itu, ada dari mereka yang datang ke rumah bukan untuk mengucapkan selamat ulang tahun tetapi untuk meminjam buku biologi. Saya, yang sedang mengalami masa minder, menangis dan merasa bahwa dunia sudah tak perduli lagi.

Haha geuleuh ya kalo ingat zaman itu :))

Seiring dengan berkurangnya umur (bukan bertambah) saya tak terlalu memusingkan apakah orang-orang ingat atau tidak dengan hari lahir saya. Bahkan saat berada di sebuah panti asuhan (bertepatan dengan hari lahir), saya tak perduli anak-anak itu tak tahu hari lahir saya. Mereka bahkan selalu salah memanggil nama saya selama beberapa tahun ini (ada yang memanggil dengan nama kak Julia, kak Ulia, bahkan ada juga yang menyebut kak Kulia). Kehadiran mereka sudah merupakan satu kejutan bagi saya.

Dan di saat saya tak terlalu ambil pusing, tak menganggap ritual tiup lilin penting, kejutan hari lahir itu malah datang dengan sendirinya, tanpa disangka.

wpid-PicsArt_1358171351013.jpgThanks, darling 😀

wpid-774342_10151284003443267_1111066799_o.jpg
Photo edited by Nurul

Dan cerita yang saya uraikan selanjutnya adalah adanya satu kejutan lagi, datang perlahan tapi menyeruak tiba-tiba.

^^^^^^^^^^^^^

Ayah selama ini selalu sibuk bekerja dan hampir tak pernah berjalan-jalan. Bepergian jarak jauh, yang bisa dikatakan liburan untuk ayah, hanyalah saat mudik Idul Fitri ke kampungnya. Ya, itu saja. Selain itu, ayah hampir tak pernah liburan ke luar kota. Kalaupun pernah jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Dan kalaupun pernah, itu juga masuk dalam hitungan dinas kerja yang padat.

Sebaliknya, ibu yang merupakan ibu rumah tangga, justru sudah menginjakkan kaki ke banyak tempat. Hihi lucu ya. Tapi ini masuk akal karena memang ibu tak terikat pada pekerjaan kantor dan izin cutinya, kecuali harus meminta izin pada ayah untuk pergi beberapa hari. Tak apa, supaya ibu tak bosan. Lagipula anaknya sudah besar.

Bepergian ibu ini pun bukan karena beliau hobi travelling, tapi hanya karena ada rezeki yang mengajak. Diajak rombongan ibu-ibu PKK ke Bali, ke Lombok, ke Jogja, ke Bandung, atau bahkan diajak ke Singapura untuk menjenguk salah satu ibu yang sakit dan dirawat di sana.

Sanak famili kami yang merupakan ibu-ibu pekerja bahkan takjub pada ibu sambil berkata; “Saya aja yang gajian tiap bulan belum pernah ke sana haha.”
Ibu bukan tipe ibu-ibu yang menyetir mobil sendirian menjemput anaknya, pergi ke mall berbelanja, atau mengikuti trend fashion terbaru ala emak-emak. Ibu bahkan masih suka bingung bagaimana cara mengetik sms.

Tapi ya begitulah. Rezeki ibu Alhamdulillah sekali. Dan bagi saya, manfaat dari ibu yang suka diajak bepergian ini adalah saya jadi punya alasan saat ibu melarang saya untuk travelling. Jurusnya adalah; “Ibu aja udah pernah naik kapal, suka pergi-pergi, masa ade ga boleh?”

Yes! Yes! dalam hati saya sorak-sorai bergembira! XD

Maka seringkali kami kasihan pada ayah, yang menghidupi kami dan selalu bekerja tapi jarang sekali bepergian menikmati hasilnya. Saat menjelang akhir tahun dan sedang dibutuhkan laporan tahunan, setiap malam ayah akan pulang pukul 11 malam dan bahkan bekerja sampai pukul 02 dini hari. Sehingga pada bulan November kemarin kami menyanggupi ajakan ayah untuk bepergian ke Pulau Lombok di penghujung Desember, bersama teman kantor ayah yang juga bersama keluarga. Ajakan ayah ini bisa dikatakan langka, karena biasanya saya yang mengajak, tapi hampir tak berhasil karena ayah yang tak bisa meninggalkan pekerjaan kantor.

Sebenarnya sejak awal ibu ragu, karena waktu keberangkatan adalah seminggu sebelum kakak diprediksi melahirkan. Dan semakin mendekati pertengahan desember, ibu semakin ragu. Lalu mundur, tak tega meninggalkan kakak. Bagaimana jika kelahirannya maju? Bagaimana jika ketika akan berangkat mbak Retno melahirkan? Katanya sambil menggeleng. Kami maklum karena ini adalah cucu pertama.

Maka tiket dan semua akomodasi yang awalnya untuk ibu dialihkan pada Dyas, sepupu saya. Dyas rupanya menolak dan memberikannya untuk Ririn dengan alasan tengah tahun 2013 nanti dari sekolah ia akan tour ke Bali. Tapi dua hari sebelum keberangkatan, Ririn pun mundur.

Sementara kakak saya semakin merasa mulas.

Oalaah..

Tiket yang dioper dari Dyas untuk Ririn pun kembali tak berpunya. Kami memikirkan beberapa orang dan berniat memilih salah satu yang sekiranya mau untuk berangkat (hampir saja gelar lapak dicari siapa yang mau ke Lombok, dijamin bakal banyak yang daftar haha). Tiket kemudian bergulir ke Ica. Ia senang-senang saja dapat rezeki dadakan (memang rezeki tak kan tertukar ya, jadi jangan khawatir hehe).

Malam hari sebelum keberangkatan, kakak malah tak boleh pulang dari rumah sakit bersalin, padahal awalnya hanya sekedar kontrol saja. Malam itu juga diberitahukan bahwa air ketuban sudah rembes dan dalam 1 x 24 jam bayi harus sudah lahir. Ibu dan suami kakak saat itu menginap di rumah sakit.

Saya menatap tas koper yang sudah rapi. Packing bahkan sudah siap sejak kemarin. Tapi rasanya pasrah saja kalau memang tak jadi berangkat dan harus menyaksikan keponakan baru lahir ke dunia. Malam itu nyaris saya tak bisa tidur, selain karena telepon yang terus berbunyi juga karena memikirkan semua kejadian yang terjadi belakangan ini.

Esok siang pukul 10.00, dokter bersalin malah menyarankan sang kakak untuk caesar pukul 14.30. Jam yang sama di saat ayah, saya, dan Ica harus berangkat ke bandara agar tak terlambat naik pesawat.

Saya pulang terburu-buru dari tempat bekerja ke rumah sakit, syukur masih bisa bertatap muka pada sang kakak yang sedang mengelus-elus perutnya. Ibu dan Bu Win (adik ibu) menyarankan untuk tetap berangkat ketika saya bertanya mengenai pembatalan bepergian ini. “Gapapa. Kasian bapak. Di sini banyak yang nungguin kok.” jawab bu Win.

“Berangkat mah berangkat aja. Mumpung bisa. Kalo nggak lahiran aku juga mau berangkat hehe.” sahut kakak sambil sesekali meringis.

Saya mengelus perut kakak, pamit dan mencium dede bayi yang masih di perut. Berikutnya ia harus sudah pindah ke ruang di lantai atas. Saya mencium pipi kakak berulang. Sungguh ini adalah adegan paling kakak-adik dalam hidup kami, karena kami jarang sekali saling memeluk dan mencium. “Iieeh.. apaan seh.”
begitu ucap kakak saat  SMP setiap saya (yang saat itu masih kelas 2 SD) mau memeluknya haha.

Sampai di rumah saya menghela nafas panjang menatap koper. Travelling, salah satu hal yang biasanya ingin sekali saya lakukan, rupanya kalah karena peristiwa lain yang memang lebih penting. Kelahiran dede bayi.
Tapi saat ini tugas saya adalah menemani ayah untuk berlibur. Jadi saya memang harus berangkat.

Dan kalau ada yang bertanya mengenai ayah dan perasaannya meninggalkan anaknya mendekati detik-detik melahirkan, ia pun dilanda kegusaran dan dilema luar biasa. Bahkan 1 jam sebelum berangkat, beliau sempat akan membatalkan semuanya. Tapi pesan kakak, untuk tetap berangkat, akhirnya membuat ayah kembali memutuskan untuk pergi.

Maka bagi kami, penghujung Desember benar-benar penuh kejutan. Tak hanya kejutan mendapatkan tiket dan akomodasi gratis ke Lombok, tapi juga kejutan tentang hadirnya anggota baru keluarga kami.

Pukul 14.30, dalam perjalanan kami di tengah kemacetan menuju bandara Soekarno Hatta, telepon ayah berdering, mengabarkan bahwa cucu pertamanya telah lahir dengan selamat. 3 kilogram, 48 cm.

Dede lahir di tengah usaha untuk mensukseskan ayah berlibur.

Welcoming, baby boy ….

wpid-IMG_20130123_201415.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *