#PeopleAroundUs: Hujan dan mereka

Tahun 2007

Suhu udara di dalam ruangan pagi itu menurun drastis. Pendingin udara di rumah sakit ini seperti biasa selalu saja dingin. Ditambah lagi di luar hujan deras. Saya dan ibu menggigil di kursi tempat kami biasa menunggu. Menanti dokter datang, menanti nama dipanggil.

Lima menit kemudian saya tak tahan. Sekedar merapatkan jaket saja tak cukup rupanya. Saya mencolek ibu yang setengah terkantuk-kantuk, memberitahunya bahwa saya akan menanti di luar dan baru akan masuk lagi nanti, kira-kira pukul 9, waktu yang diperkirakan dokter akan datang.

Saya melangkah keluar ruangan, berdiri bersandar pada tembok di dekat lajur landai untuk pasien yang menggunakan kursi roda. Di luar gedung ini tak ada AC yang membuat menggigil, tak ada aroma kuat rumah sakit. Aman.

Kendaraan pribadi, taxi, dan ambulans silih berganti datang dan berhenti sejenak untuk menurunkan pasien di lobi utama. Petugas kebersihan bolak-balik membersihkan lantai yang kotor, sementara petugas keamanan rumah sakit hilir mudik sambil sesekali membantu pasien yang baru turun dari mobil. Saya terus berdiri. Mengamati kejadian sekitar sampai puas. Dan sampai rintik-rintik hujan yang semula mengecil kembali berubah deras, saya masih berdiri di luar.

Lalu berturut-turut satu, dua, tiga orang anak hilir mudik di depan lobi. Kemudian datang lagi dua orang remaja tanggung. Tak seperti petugas rumah sakit yang hilir mudik untuk berpindah ke gedung lain, anak-anak ini menanti saja di depan lobi. Semuanya hanya mengenakan kaus dan celana pendek, dan semuanya basah dari kepala sampai kaki. Dua di antara mereka bahkan terlihat jelas menggigil kedinginan dan tak mengenakan alas kaki.

Satu anak mendapat pelanggan. Ia nyengir pada temannya lalu berbalik, berlalu sambil memegangi payung berwarna cerah untuk sang bapak. Sementara yang lain masih menanti. Menanti orang lain yang ingin berpindah tapi tak membawa payung.

Satu anak berdiri tak jauh dari saya. Usianya mungkin sama dengan sepupu saya yang kelas 4 SD. Ia menggumamkan nyanyian yang entah lagu apa. Suaranya serak. Nyanyiannya pun berkali-kali tertunda karena ia berulang kali bersin. Sesekali telapak kakinya, yang tak mengenakan alas, memainkan genangan air.

Tak lama hujan pagi itu benar-benar reda. Gumpalan awan mendung menyingkir dari langit. Anak-anak ojek payung itu melenggang berlalu menuju jalan raya, menutup payungnya, merayakan kebebasan matahari.

Ojek payung, RS. Harapan Kita
Ojek payung, RS. Harapan Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *