Pulang dengan aman (2)

*Baca tulisan sebelumnya tentang Pulang dengan aman (1)

wpid-IMG-20121012-WA0000.jpgKakak ipar kecelakaan seminggu lalu. Motor yang dinaikinya menabrak motor lain.

Sabtu itu selepas sahur ia bersiap dan berangkat sekitar pukul 05.30 dan kami di rumah beraktivitas seperti biasa. Sekitar pukul 06 ada telepon ke rumah. Kakak ipar yang menelepon dan meminta disambungkan ke kakak saya dengan suara yang terburu-buru.

Saat itu ibu yang mengangkat. Meski curiga, ibu tetap tidak bertanya dan memberikan telepon pada kakak. Tapi sesudah tahu yang terjadi, ibu lantas memberitahu saya, wajahnya panik dan berbicara tidak teratur. Saya tahu ia langsung pusing dan nyaris menyarankan minum teh jika tidak ingat sedang berpuasa. Ibu memang panik dan sangat was-was kalau sudah urusan jalan raya.

Ayah yang saat itu hampir keluar rumah langsung dicegah. Berdua kakak, ayah pun menuju lokasi. Dari omongan ditelepon tangan kakak ipar kemungkinan patah.

Sejujurnya saya juga panik. Teringat peristiwa kecelakaan diri saya sendiri dan tidak pulang ke rumah tapi ke rumah sakit.

Selepas menyusui dede dan ia digendong ibu, saya lalu mengajak Daffa jalan keluar rumah. Seperti biasa kami jalan pagi dan berbicara banyak hal mulai dari pohon terong, bunga pukul 4, rumah semut, mobil jeep, hingga menangkap belalang yang entah kenapa sedang ramai di depan rumah.

Telepon rumah pun bolak balik berbunyi. Yaitu kabar bahwa kakak ipar ingin diurut di tukang urut patah tulang saja. Pukul 9 ayah, kakak, dan kakak ipar tiba di rumah.

Saya sedih saat itu melihat Daffa dan kakak ipar yang pulang dengan tangan sudah terbebat perban coklat padahal berangkat sehat wal afiat. Daffa asik-asik saja melihat ayahnya pulang lagi, tapi ia tahu tangan ayahnya sakit. Tapi setidaknya bersyukur sekali ia masih dilindungi. Alhamdulillah.

Cerita pun dimulai. Yaitu bahwa motor kakak ipar melaju seperti biasa saat lampu hijau. Tak disangka dari pertigaan sebelah kiri ada motor menerabas lampu merah. Iya, mobil dan kendaraan lain di tempatnya sudah berhenti tapi motor itu menerobos lampu merah. Dengan terpaksa tanpa bisa mengerem lagi, kakak ipar pun menabrak. Katanya kalau ia banting ke kiri maka ia bisa tertabrak metromini.

Fiuh.. dan tahu apa yang dibilang pengendara motor itu pada kakak ipar yang memegangi tangannya yang bengkok?

“Bapak kenapa nggak ngerem?”

Blaaah!

Pertanyaan apa itu? Datang dari orang yang menerabas lampu merah! Ayah meminta KTP orang tersebut tapi ia menolak.

Belakangan saya baru tahu. Orang yang membonceng motor orang tersebut meninggal di hari senin. Kami menduga mungkin luka dalam karena pasca kecelakaan ia mengaku tidak apa-apa dan langsung naik taxi karena katanya terburu-buru.

Ah, masihkah kita menyepelekan sebuah kelap-kelip 3 lampu dan ngebut sejadi-jadinya?

Mumpung masih hijau..
Mumpung masih kuning…
Mumpung masih bisa…
Ngebut!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *