Boeharti: pengamatan burung di hari batik 2016

Tanggal 2 Oktober 2009 UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional dan biasanya orang-orang akan mengenakan batik ketika bekerja atau berkegiatan di tanggal tersebut.

Teman-teman Pengamat Burung Indonesia (Pengabdi) rupanya tidak mau ketinggalan dengan merayakan hari batik. Sejak tahun 2010 dibuatlah BOEHARTI alias pengamatan BOEroeng di HARi baTIk. Jadi pada tanggal 2 Oktober para birder ini melakukan pengamatan sambil mengenakan baju batik. Jadi mereka akan ramai-ramai (atau sendirian) masuk ke hutan, taman kota, hutan kota, hingga area lain untuk mengamati burung sambil mengenakan baju batik.

poster-buharti.jpg

Siapa bilang mengamati burung harus selalu pakai baju ijo-ijo supaya nyamar? Mau pengamatan pakai batik merah atau biru? Kali ini boleh!

Tahun ini Boeharti kembali diadakan dan bahkan dilombakan. Jangka waktunya 2-4 Oktober 2016.

Syukurlah syarat pengamatan tersebut nggak harus tepat tanggal 2 karena ternyata bertepatan dengan hari batik itu saya, ibu, kakak, dan bocah-bocah ngibrit ke Bogor buat jalan-jalan ke Taman Topi. Boro-boro kepala dongak ke langit buat nyari burung, saya malah sibuk menenangkan A yang nangis karena naik komidi putar. Kami pun juga nggak pakai batik karena kelupaan.

Esok harinya kami bisa leyeh-leyeh sedikit, dan mengingat bulan September hingga awal Oktober lalu bertepatan dengan Abang berangkat haji jadi saya ngungsi dulu ke rumah ibu yang notabene masih ada burung yang sedikit beragam. Kalo di rumah saya mah cuma ada burung gereja sama kutilang doank.

Hari itu, 3 Oktober saya pun sudah menyiapkan baju batik dengan niat pengamatan di sekitaran rumah bareng duo pengawal. Iyes, siapa lagi kalo bukan A dan masnya yang jadi soulmate itu. Karena saya nggak bawa baju batik punya A, jadinya ia pakai baju punya Mas yang udah kekecilan.

Eh ternyata susah juga ngebujuk mereka pake baju batik, bukan karena nggak mau pake batik tapi sekarang emang kalo abis mandi dan disuruh pake baju butuh waktu setengah jam cuma buat ngejar-ngejar bocah lari-larian. Makin dipanggil emaknya yang megang baju, makin kabur dan ketawa-ketawa lah dia 😂.

Singkat cerita akhirnya A dan saya kabur ke taman buat pengamatan. Sementara si Mas juga ngikut tapi ogah ganti baju. Tapi lama-lama dia ngiri juga sehingga kabur ke bundanya buat minta ganti baju.

Macam model saja kalian

Giliran udah rapi bertiga gitu, sampe lamaaaaa kitanya cuma kejar-kejaran doank di taman. Mana burungnyah? Padahal biasanya burung betet mondar-mandir ke pohon jati tinggi di belakang rumah, juga burung madu. Hari itu sepiiii.

Sampai akhirnya kami menyudahi pengamatan karena makanan udah habis dan udah pada kepanasan. Belum lagi ditambah batu-batu gede yang mulai dicemplung-cemplungin mereka ke got dan para emak udah mulai ngomel-ngomel. Daripada disamperin Bu RT karena bikin got mampet dan demi suasana yang lebih kondusif kami pun masuk.

Hari itu cuma dapat burung kutilang yang lagi makan buah sama burung kipasan belang. Langsung deh setoran hasil tersebut ke aplikasi burungnesia, yang dibuat oleh kawan-kawan pengamat burung untuk mendata sebaran burung-burung di Indonesia. Yang luar biasa dana dan segala printilan pembuatan aplikasi itu ya dari Gusti Allah Foundation. Alias nggak ada sponsor! Super!

Cucak kutilang

Nggak papa deh hari itu boeharti-nya sepi, yang penting sudah ikut meramaikan setelah beberapa tahun absen. Etapi belum sampai 15 menit masuk rumah, duo bocah itu sudah mengajak keluar lagi. Bahkan hingga sore A kekeuh nggak mau copot baju batiknya 😆.

Malam harinya mereka ketagihan. Minta pake baju batik samaan lagi.

2 thoughts on “Boeharti: pengamatan burung di hari batik 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *