Periksa kehamilan dengan BPJS tahap 1: minggu ke-5

As what I’ve told you before, sekitar seminggu pasca periksa kehamilan di RS bersalin dan telah melakukan USG, saya pun menuju puskesmas untuk periksa kehamilan dengan mengikuti alur BPJS.

Karena sebelumnya diperbolehkan untuk  langsung periksa kehamilan di faskes tingkat kecamatan (meski faskes tingkat 1 saya adalah kelurahan), maka saya pun langsung saja menuju ke puskesmas kecamatan. Toh di sana juga tersedia lab dan lebih lengkap. Meski tentunya lebih nguantri lagi.

Hari itu saya berangkat dari rumah sekitar pukul 5 lewat, pagi-pagi sekali. Saya pikir bakalan masih sepi. Lha ternyata udah ruame!

Saya berdiri saja dekat pengambilan nomor antrian karena tidak tahu, bukan maksud mau nyelak tapi saya mikirnya mau berdiri di mana lagi gitu, semua bangku antrian sudah penuh. Eeh ternyata malah diliatin ibu-ibu terus mereka malah ngasi tahu kalau saya harusnya ngantrinya dari pager.

Eeh busyeet, datang pagi aja berdiri di pager. Bahkan ternyata mereka yang sudah duduk di bangku pun berurutan sesuai kedatangan. Dan ternyata si ibu yang tadi ngasi tahu saya itu antrian nomor 1 dan dia subuh di puskesmas 😒.

Yo wess saya berdiri aja gitu di pagar ngikutin antrian yang sudah ada. Makin siang makin banyak yang datang dan sama seperti saya, beberapa juga terlihat bingung. Antrian kemudian mengular di parkiran puskesmas.

Berbeda dengan seperti di puskesmas kelurahan di mana saat pukul 6, petugas sudah menyalakan mesin nomor antrian, sehingga pasien bisa langsung mendapat nomor. Ternyata di puskesmas kecamatan ini tidak.

Pukul setengah 7 barulah mesin dinyalakan oleh bapak satpam yang lumayan tegas setiap ada yang memotong antrian. Yang paling heboh tentu saja pasien poli gigi, karena kuota per harinya untuk poli gigi lebih sedikit daripada poli yang lain. Pertama pasien poli gigi yang usianya sudah LANSIA diminta tunjuk tangan dan dibagikan nomor antrian lebih dulu oleh pak satpam, kemudian barulah pasien poli gigi NON-lansia diminta tunjuk tangan. Jika kuota sudah habis maka dadah bubye, silakan pulang dan coba besok lagi.

Ternyata kuota terbatas bukan hanya untuk poli gigi sodara-sodara! Setelah pasien poli gigi mendapat nomor, maka giliran pasien poli umum dan kehamilan yang sudah berdiri sesuai antrian. Pasien yang mengantri di urutan belakang mulai gelisah karena sudah berdiri lama dan khawatir tidak mendapat kuota. Saya sendiri sudah berdiri lebih dari satu jam ketika petugas akhirnya membagikan nomor antrian untuk poli umum maupun untuk poli bidan kehamilan.

Antrian sempat chaos karena beberapa orang sudah bubar setelah mendapat nomor untuk kemudian nantinya pukul setengah 8 kembali lagi. Sehingga mereka yang sudah bubar ini berdiri di antara antrian yang masih utuh. Di sinilah kejujuran diuji. Terlihat ada beberapa yang tergoda diam-diam menyelinap memotong antrian lalu menyelak.

Saya pun sudah sempat was-was. Huaaa.. kalo nggak dapat masa balik lagi minggu depan?! Mana udah berdiri satu jam. Tapi Alhamdulillah saya masih keburu dapat nomor meski si mesin nomor antrian sering banget macet-macet dan tersendat.

Sementara mereka-mereka yang antri sekitar 10 orang jaraknya sesudah saya rupanya tidak mendapat kuota! Walaah tega amat! Pikir saya. Sudah mengantri lebih dari 1 jam malah tidak bisa berobat. Apa tidak seharusnya dipikirkan bagaimana sistem antrian yang memudahkan. Karena banyak yang tidak dapat duduk itu dan ikut mengular adalah juga lansia, ibu hamil, dan ibu membawa anak. Mau duduk sudah tidak ada bangku lagi. Di depan saya bahkan adalah ibu hamil besuar yang menunggu HPL dan sekaligus juga membawa anak.

Beberapa masih beruntung mendapat nomor antrian ketika kuota ditambah namun kemudian kuota kembali penuh. Seluruh antrian pun membubarkan diri setelah mendapat nomor.

Saya langsung bergegas mencari penjual teh manis hangat karena rasanya puyeng sekali. Besok-besok lagi sekalian saja bawa termos teh manis ke sini.

Barulah saat itu saya tahu kenapa banyak juga para bapak yang memegang buku kehamilan namun terlihat sendirian alias tidak dengan si ibu yang hamil. Rupanya merekalah yang mengantri lebih dulu, nantinya ketika sudah dapat nomor dan mulai dipanggil ke loket pendaftaran baru si ibu datang ke puskesmas. Ah, meneketehe.

Sambil menunggu loket dibuka saya kembali celingukan mencari penjual makanan. Aah, ada yang menjual nasi goreng porsi mini! Saya pun membeli satu dengan harga Rp 5.000. Pas dicoba pedes banget dan rasanya si dede bayi kepedesan. Perut saya berasa kenceng banget.

Loket pendaftaran pun dibuka dan pasien mulai dipanggil. Setelah selesai mendaftar saya berpindah bangku ke depan poli kehamilan. Bangkunya pun di sana sudah hampir penuh. Saya menunggu cukup lama karena ternyata poli kehamilan baru mulai menjelang pukul 8 meski seharusnya sudah dimulai sejak pukul setengah 8.

Dua perawat menduduki meja di depan ruangan dan mulai memanggil pasien. Antrian berjalan cukup lama karena saya rupanya kebagian nomor cukup jauh hiks padahal itu sudah datang pagi ya.

Ketika tiba giliran saya, saya pun diukur tensi dan timbang badan terlebih dulu. Tapi ketika mereka tahu bahwa saya melompati alur faskes, dua perawat yang terlihat masih sangat muda itu sempat berkata bahwa seharusnya saya tidak periksa di situ. Saya bilang waktu bulan November lalu boleh-boleh saja langsung ke poli kehamilan di kecamatan.

Akhirnya mereka bertanya dulu ke bidan di dalam ruangan dan ternyata benar peraturannya sudah berubah! Saya tidak boleh langsung ke faskes tingkat 2. Hari itu karena sudah terlanjur datang dan karena saya juga sudah membawa hasil USG minggu lalu, akhirnya saya diberi surat rujukan untuk cek lab saja. Namun nanti hasilnya cukup dibawa ke bidan di puskesmas kelurahan. Jadi hari itu di puskesmas kecamatan saya sama sekali nggak ketemu bidan heu.

Akhirnya setelah mendapat surat rujukan cek lab saya menuju kasir dulu untuk menunjukkan bukti kartu BPJS. Salahnya adalah saya lupa bawa fotocopy kartunya. Jadi harusnya fotocopynya dikasi ke kasir, tapi ya sudahlah masih boleh sama Mbak-nya tapi besok-besok jangan diulangi lagi. Setelah dicap barulah saya naik ke lantai 2 dan menumpuk kertas rujukan di loket lab untuk nantinya menanti dipanggil. Hari Jumat itu rupanya lumayan penuh dan cukup bikin puyeng lah pokoknya.

Setelah dipanggil lalu saya dikasi botol untuk menampung urine dulu, dan kemudian harus menunggu lagi untuk diambil darahnya. Ngantri lagi. Setelah cukup lama menanti, akhirnya selesai juga ambil darah dan diberi tahu bahwa hasilnya paling lama 1 jam. Tapi berdasarkan pengalaman yang dulu, setengah jam sudah bisa diambil jadinya saya nggak usah pulang dulu. Saya turun lagi ke lobi dan nyemil-nyemil biskuit. Kalo dipanggil dari lab dan kitanya lagi di bawah masih nggak masalah sih, soalnya speaker mik-nya emang nyampe bawah gitu, nggak kaya suara panggilan yang di tiap poli. Etapi ini tiap puskesmas pastinya beda-beda ya.

Pas udah setengah jam barulah saya naik lagi ke lantai 2 dan benar saja, hasilnya sudah jadi. Nah, karena peraturan yang sudah berubah itu akhirnya saya pun langsung pulang dan nggak bertemu bidan kecamatan. Minggu depan bawa hasilnya ke puskesmas kelurahan saja.

Yang harus diperhatikan ketika datang ke puskesmas untuk periksa via BPJS (terutama tingkat kecamatan yang antriannya lebih banyak):

  1. Datang sepagi mungkin untuk mengambil nomor antrian, apalagi jika mau ke poli gigi.
  2. Perhatikan jarak antar rumah dan puskesmas jika ingin pulang lagi, jangan sampai sudah datang pagi-pagi dan dapat nomor antrian lalu pas dipanggil kitanya masih di rumah. Ihiks….
  3. Jangan bengong atau keasyikan main hape ketika mengantri nomor karena khawatir diselak mereka yang tidak bertanggung jawab.
  4. Bawa kartu BPJS dan fotocopynya.
  5. Jika sudah memiliki buku kehamilan yang berwarna pink maupun jika sudah ada print USG dari klinik sebelumnya tempat kita periksa, maka jangan lupa dibawa sekalian.
  6. Aktif bertanya pada petugas jika bingung.

One thought on “Periksa kehamilan dengan BPJS tahap 1: minggu ke-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *